Kisah Pelukis Payung Asal Laweyan, Berawal dari Mukena

Kisah Pelukis Payung Asal Laweyan, Berawal dari Mukena

19
Baharudin Raka Dewanta Aji (26) bersama payung yang dilukisnya. Foto : Dok

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, ungkapan itu yang mungkin ada apa Baharudin Raka Dewanta Aji (26).

Dalam dirinya mengalir jiwa kesenian dari orangtuanya yang merupakan perajin batik di daerah Laweyan. Namun bukan batik yang ditekuni Raka saat ini, melainkan pelukis payung dengan karya cukup banyak.

Kendati orangtuanya sebagai perajin batik, namun tidak serta merta Raka langsung mengikuti jejak orangtuanya.

Sebelum dikenal sebagai pelukis payung, Raka lama berkecimpung dalam jual beli barang-barang antik, seperti keris atau tombak. Tidak ada jiwa seni dalam dirinya, bahkan dalam pendidikan pun mengambil jurusan pelayaran.

Namun takdir berkata lain sejak enam tahun lalu terjun di dunia melukis dan bergabung dalam komunitas lukis di daerah Klaten.

Baca Juga :  SBS Bagikan 10.100 Sembako Gratis

“Sudah enam tahun atau jalan tujuh tahun jadi pelukis payung. Dulu awalnya itu dari lukis mukena. Lalu belajar dan akhirnya mencoba melukis payung sampai sekarang,” terang Baharudin Raka Dewanta Aji, saat ditemui dalam kegiatan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), belum lama ini.

Ia mengaku awalnya merasakan kesulitan saat melukis. Karena harus punya ide menarik yang kemudian di tuangkan di payung. Lama-lama ia merasakan keseruan setiap kali berkarya. Hasilnya karyannya cukup bagus dan banyak dilirik masyarakat.

“Awalnya sulit tapi lama-lama terbiasa dan butuh konsentrasi tinggi dalam penyempurnaan. Untuk hasil pernah tampil di Festival Payung beberapa tahun lalu,” imbuh pria kelahiran Surakarta 19 Agustus 1991 ini.

Untuk melukis payung, Raka memakai pasta bukan minyak seperti kebanyakan pelukis payung lainnya. Dengan pasta warna yang dihasilkan lebih menonjol.

Baca Juga :  Posting Cek Pembangunan Tol, Instagram Ganjar Pranowo Kembali Diserbu Ribuan Pertanyaan PPDB

Meski demikian untuk gradasi kurang mencolok jika dibandingkan pakai minyak. “Saya hanya melukis saja, untuk payungnya sudah ada yang memproduksi,” sambungnya warga Mutihan RT 03 RW X Sondakan, Laweyan ini.

Raka, tiap hari mampu melukis 10 buah payung dengan konsep berbeda-beda. Hanya kebanyakan konsepnya lebih banyak ke alam.

“Pernah dapat order buat karakter tapi langsung saya tolak karena tidak bisa, dulu pernah coba tapi sulit juga. Jadi ini butuh imajinasi yang kuat agar hasilnya itu bagus dan menarik, tidak bisa keluar jalur,” ungkap Raka yang memaknai apa yang dikerjakannya sebagai pengalaman berharga.

#Ari Welianto

BAGIKAN