JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Kisah Taman Bacaan Masyarakat Atria Semanggi, Dorong Anak-anak Sekitar untuk Giat Belajar

Kisah Taman Bacaan Masyarakat Atria Semanggi, Dorong Anak-anak Sekitar untuk Giat Belajar

8
BAGIKAN
Kukuh Subekti
TAMAN BACAAN–Dua orang anak memilih buku bacaan yang diminatinya di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Atria Semanggi, Senin (15/5).

Berawal dari keprihatinan terhadap lingkungan sekitar, salah seorang warga Semanggi mulai merintis taman bacaan. Kini setiap hari puluhan anak belajar bersama di tempat itu.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Atria Semanggi yang berdiri pada tahun 2009 ini sekilas nampak normal seperti layaknya sebuah tempat membaca.

Ada deretan buku berbaris rapi di rak kayu yang menempel pada tembok ruangan. Ada dua almari yang berdiri kokoh menjadi penyangga puluhan buku- buku.

Sekilas semua masih normal ada dua meja berukuran sedang yang berfungsi sebagai meja pengelola TBM. Namun di salah satu tembok sisi ruangan terdapat papan tulis whiteboard berukuran besar, usut punya usut ternyata itu media belajar puluhan anak- anak di RT 4/RW3 Losari, Semanggi.

Namun jika kita jeli ternyata ada yang kurang, tidak ada peralatan modern seperti seperangkat komputer.

“Sementara administrasi saya catat di buku catatan yang sudah kita siapkan, administrasi saya usahakan tertib meskipun belum bisa rapi dan terstruktur,” ujar Pendiri sekaligus Pengelola Taman Bacaan Masyarakat Atria, Any Safitria kepada Joglosemar Senin (15/5/2017).

Any mengisahkan TBM ini dirintis oleh dia dan sang suami semenjak memutuskan pulang kampung ke Semanggi.

Kala itu pada tahun 2007 Semanggi baru saja mengalami peristiwa banjir besar. Dua tahun pascabanjir dia memutuskan untuk menetap dan mulai merintis berdirinya TBM Atria.

“Waktu itu kita merasa prihatin dengan lingkungan sekitar kami tinggal. Anak-anak suka bermain dan nongkrong di pinggir rel. Kami ingin nasib mereka bisa lebih baik daripada orangtua mereka, minimal anak saya, dan semua berawal dari ilmu,” tutur Any.

Any mengisahkan tidak mudah bagi dia dan sang suami merintis berdirinya TBM Atria. Namun dengan adanya niat dan motivasi yang kuat demi lingkungan kampung yang lebih baik dia pun mulai bergerak. Tahun 2009 dirintis TBM dengan nama awal Sangar Baca Atria.

Kala itu lahan parkir rumahnya dia sulap menjadi sanggar baca berbahan kayu dan gedeg (anyaman bambu), berlantaikan plesteran dengan dialasi karpet plastik.

Ketika hujan turun ruang baca tergenang air, namun anak- anak banyak yang memaksa datang. “Ya dulu pas awal-awal kita belum punya ruangan kalau pas hujan, sebenarnya kasihan anak-anak yang antusias,” supardi.

Bangunan TBM Atria kini sudah berdiri kokoh terbuat dari batu bata, yang dibangun dari hasil sang suami, Supardi berjualan kayu keliling.

Ruangan berukuran 3,5 kali 10 meter ini kini sehari-hari dimanfaatkan untuk kegiatan bermain anak-anak  PAUD hingga TK dan kegiatan bimbingan belajar SD hingga SMP serta TPQ.

Semua kegiatan bimbingan belajar dilakukan Any dan putri tercinta Anidea Eka Saputri. “Sebenarnya kita ingin punya tentor khusus tapi ya gimana lagi kita nggak mampu menggaji,” imbuh Supardi.

Any masih punya segudang mimpi untuk bisa mengembangkan TBM ini menjadi sebuah TBM yang layak. Ketiadaan donatur menjadikan keterbatasan.

Setidaknya tiap hari ada sekitar 30 anak yang datang ke TBM. Selama ini operasional hanya mengandalkan dari iuran Rp 3.000 per anak. “Besaran iuran ini sudah disepakati warga di sini,” ujar dia.

Kukuh Subekti