JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pendidikan Mahasiswa Desak Rektor UTP Mundur

Mahasiswa Desak Rektor UTP Mundur

159
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENUNTUT DILIBATKAN – Mahasiswa Universitas Tunas Pembangunan Surakarta berorasi saat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Rektorat Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, Selasa (23/5). Dalam aksinya, mereka menuntut untuk dilibatkan dalam pemilihan rektor dan juga menuntut adanya kemajuan di universitas tersebut.

SOLO— Mahasiswa Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta menuntut Rektor UTP Surakarta, Ongko Cahyono untuk mundur dari jabatannya. Para mahasiswa menilai bahwa Ongko tidak profesional dan tidak pantas untuk menjadi rektor. Tuntutan tersebut disampaikan para mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) universitas dan fakultas dalam aksi yang digelar di kampus 1 UTP Surakarta, Selasa (23/5).

Dalam aksi tersebut, gabungan mahasiswa dari BEM di fakultas yang ada di UTP membentangkan spanduk menuntut pilihan rektor UTP dilakukan secara terbuka dan menuntut rektor UTP mundur.

Sekretaris BEM UTP Surakarta, Glory Tatas, mengatakan dalam aksi tersebut, mahasiswa menyerukan tiga tuntutan mahasiswa (Trituna). Di antaranya pemilihan rektor harus adil, transparan dan akuntabel. Kemudian rektor periode 2017-2021 harus dari luar UTP dan menuntut rektor UTP sekarang untuk mundur.

“Kenapa kita menuntut rektor untuk mundur, ini dikarenakan Rektor sekarang Prof Ongko kami nilai tidak lagi profesional dan tidak patut untuk menjadi rektor,” ujar Glory.

Dan selama Prof Ongko memimpin UTP Surakarta selama dua periode ini, pihaknya menilai tidak ada perkembangan dan justru mengalami penurunan. “Jumlah mahasiswa stagnan dan mengalami penurunan. Bahkan ketika ditanya berapa jumlah mahasiswa UTP secara riil tidak pernah di jawab,” ujar.

Lanjut Glory, selama aksi berlangsung Rektor UTP enggan menemui peserta aksi. Bahkan peserta aksi mengancam jika Rektor UTP tidak mau menemui maka akan ada aksi lanjutan yang lebih besar. “Dan kami juga akan boikot dengan tidak bayar SPP. Dan kenapa kami memilih supaya Rektor berasal dari luar, ini dikarenakan di UTP ini tidak ada sosok yang pantas jadi rektor,” kata Glory.

Menanggapi aksi tersebut, Wakil Rektor 1 UTP Surakarta, Isnarno, mempersilakan para mahasiswa menyuarakan tuntutannya. Tetapi, untuk keputusan pencopotan rektor sepenuhnya menjadi kewenangan dari yayasan. Untuk itu, dirinya menyarankan agar tuntutan tersebut langsung disampaikan kepada pihak yayasan. “Silakan tuntutan mahasiswa semuanya disampaikan ke yayasan yang menaungi UTP. Karena semua kebijakan itu dari yayasan,” ujar Isnarno. Dwi Hastuti