Masjid dan Makam

Masjid dan Makam

107
Dok Joglosemar
Heri Priyatmoko
Dosen Sejarah, Universitas Sanata Dharma Sejarawan Solo

Mentari naik sepenggalah. Angin berkesiur bikin ranting pepohonan di pelataran Masjid Gedhe Surakarta bagai bocah lenggut-lenggut (berjoget pelan). Orang berlalu lalang tanpa risau kepalanya tersengat sinar. Bola mata mereka menyadap aura klasik yang terpantul lembut dari bangunan masjid warisan Paku Buwana II (1711-1749) itu.

Menjemput bulan suci Ramadan, Masjid Agung bersolek dan dibersihkan, laiknya wong Jawa mapak sasi Sura. Dalam kompleks ruang sembahyang warga Soloraya ini, hingga sekarang masih berselimut kabut misteri adalah makam. Pasareyan berjumlah dua buah itu berada di belakang mesjid. Tim riset sejarah Masjid Agung Surakarta menyisakan penggal pertanyaan siapa tokoh yang dikebumikan di pusara itu. Tiada nama tertoreh di batu nisan. Namun, menimbang sejarah keraton dan islamisasi di Kota Bengawan, tentu ia bukanlah dari kalangan wong cilik atau orang biasa.

Baca Juga :  Revolusi Mental Guru

Kendati belum tersibak misteri itu, kuburan bercokol di sekitar mejid bukanlah sesuatu yang anyar dalam lintasan sejarah Jawa. Ambillah contoh, Masjid Kota Gedhe. Di belakang tempat beribadah ini, dipergoki sebuah makam. Di situ, disemayamkan jasad para peletak dasar kerajaan Mataram-Islam, yakni Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Sunan Seda ing Krapyak. Selain itu, terdapat makam Sultan Hamengku Buwana II, Pangeran Adipati Pakualam I, serta sejumlah besar makam keluarga raja Mataram lainnya. Hal serupa dijumpai dalam struktur ruang Keraton Plered (1625-1677) yang didirikan Sultan Agung. Arkeolog Inajati Andrisijanti (2001) melakukan survey arkeologis menemukan sisa-sisa Masjid Agung Plered. Di sebelah barat reruntuhan masjid, ada makam kuno seperti di Kota Gedhe sebelumnya.

Baca Juga :  Revolusi Mental Guru

1
2
3
BAGIKAN