JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Membudayakan Buku di Rumah

Membudayakan Buku di Rumah

71
BAGIKAN
Dok
Bandung Mawardi
Bapak rumah tangga dan penulis di pengedarbacaan.wordpress.com

Pemerintah sedang merepotkan diri dengan pelbagai kebijakan literasi dan perbukuan. Bingung melanda perpustakaan dan institusi pemerintah bermisi mengajak orang-orang jadi pembaca buku. Di mata pemerintah, buku terkesan selalu berada di luar rumah. Buku-buku bertempat di gedung perpustakaan, perpustakaan sekolah, taman baca di kampung, dan mobil perpustakaan keliling. Pemerintah pun rajin mengadakan seminar-seminar bertema buku. Seminar tentu berada di kampus, hotel, atau gedung milik pemerintah. Buku tetap saja berada di luar rumah. Tahun demi tahun berlalu, kita jarang mendengar ajakan agar buku di rumah.

Di pelbagai kota dan kabupaten, usaha memajukan literasi dipahami dengan mengeluarkan dana miliaran rupiah membangun gedung perpustakaan.  Keberadaan gedung dengan fasilitas-fasilitas memanjakan dimaksudkan mengajak orang-orang mau jadi peminjam dan pembaca buku. Pemerintah ingin terbukti bekerja dengan pertanggungjawaban literasi berwujud gedung perpustakaan dan penambahan dana pembelian buku. Mereka sering lupa jika buku berhubungan dengan rumah.

Kita tak usah terlalu menuduh pemerintah lalai mengurusi buku dan rumah. Pekerjaan-pekerjaan besar telah membuat mereka lelah. Kita maklumi saja. Tuduhan pun gampang menimpa sekolah. Sejak SD sampai SMA, kepala sekolah dan guru tak memiliki “tugas” imbuhan menganjurkan murid-murid memiliki buku di rumah. Seruan mereka melulu ke kepemilikan buku pelajaran untuk berada di sekolah, rumah, dan tas. Buku-buku bacaan umum di luar anjuran. Para pendidik dan pengajar justru biasa “melarang” murid membawa buku-buku selain pelajaran masuk di kelas. Buku-buku bukan pelajaran diwajibkan menghuni perpustakaan sepi dan merana.