JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Mencegah Teror Lebih Lanjut

Mencegah Teror Lebih Lanjut

114
Ilustrasi

        Setahun lalu, tepatnya beberapa hari sebelum hari raya Lebaran, terjadi ledakan bom bunuh diri di halaman kantor Polresta Surakarta. Saat itu, ketika para awak tengah menyortir berita dan foto mana saja yang layak ditayangkan,  bersamaan itu pula beredar foto-foto tubuh yang terluka dengan kondisi yang “mengenaskan”.

        Media mainstream diikat oleh kode etik jurnalistik dan Undang-undang Pers. Peredaran foto korban sekaligus pelaku tersebut sangat vulgar, sehingga tidak layak untuk ditampilkan di media maisntream. Namun di luar itu, ternyata foto dengan kondisi tubuh yang mengenaskan beredar dengan sangat mudahnya, sehingga mengaduk-aduk emosi masyarakat.

        Pertanyaannya, bukankah upaya kawan-kawan media ini nyaris tak ada gunanya ketika informasi dan foto yang sebenarnya tidak layak siar ke publik, dengan mudah beredar di media-media sosial? Hanya dalam hitungan detik untuk memencet “klik”, seorang anak kecil pun bisa menyaksikan foto-foto yang sebenarnya tak layak tayang.

        Siapa pun mendadak bisa menjadi penyiar berita, informasi dan foto-foto kepada publik. Orang dengan sangat mudah menjadi “wartawan”, menggusur tugas penyiaran berita yang sebenarnya menjadi kewenangan wartawan mainstream. Belum genap satu tahun, terjadi lagi kasus bom bunuh diri di terminal Trans Jakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5).

        Hampir sama dengan ledakan bom Mapolres Solo setahun lalu, belum sempat berita mainstream tayang, di media sosial sudah bertebaran gambar korban yang tubuhnya tercerai berai. Orang dengan mudah melihat sebuah tragedi kemanusiaan tanpa sensor sedikit pun.

1
2
BAGIKAN