JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Mengejutkan, Begini Sepak Terjang 2 Kanit Polres dan Sipir LP di...

Mengejutkan, Begini Sepak Terjang 2 Kanit Polres dan Sipir LP di Dunia Peredaran Narkoba Sragen

1725
BAGIKAN
Dua Kanit Polsek di Polres Sragen saat menjalani pemeriksaan di Mapolres, Rabu (4/5/2017) malam. Foto/istimewa

SRAGEN- Tertangkapnya dua Kanit Polres Sragen, Aiptu SUJ (53) dan Aiptu JOK alias Tindik (44) saat berpesta sabu dengan sipir Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sragen, AGP (54) dengan 2 PNS Sragen,
mulai membuka tabir soal sepakterjang para aparat itu. Sejumlah sumber menyebut,  mereka sudah dikenal lama dekat dengan narkoba bahkan Aiptu JOK dan AGP disebut juga ikut nyambi sebagai penyuplai barang.

Kedekatan mereka dengan narkoba diungkapkan sejumlah kalangan yang
selama ini mengetahui seluk beluk peredaran narkoba di Sragen. Sejumlah mantan narapidana kasus narkoba yang sudah keluar, mengungkapkan tak kaget lagi dengan penangkapan 3 aparat itu utamanya Aiptu JOK dan AGP.

Pasalnya, keduanya sudah lama diketahui “bermain” tak hanya sekedar memakai namun juga ikut menyuplai. Bahkan, Aiptu JOK yang pernah menjabat sebagai Kanit di Res Narkoba, disebut tak jarang menjadikan beberapa pelaku pengedar narkoba sebagai tambang binaan.

“Sebenarnya sudah tahun-tahunan (memakai), makanya nggak kaget lagi
kalau ketangkap. Mereka itu sudah seperti satu kelompok. Yang kami tahu dulu waktu jadi penyidik, J itu malah seringnya datangi pemakai atau penyuplai minta jatah. Hampir tiap hari malahan. Bisa ditanya ke pelaku-pelaku lain,” ujar WD, salah satu mantan pengedar sabu yang pernah menjalani proses hukum.

Berdasarkan pengalamannya, hampir setiap saat, oknum tersebut selalu meminta jatah sabu seberat 0,25 gram yang dalam bahasa sandi disebut paket supra (seperempat). Tak hanya jatah barang, jatah yang diminta terkadang juga dalam bentuk setoran dengan nominal antara Rp 5-10 juta.

Beberapa mantan napi kasus narkoba juga menuturkan hal yang sama. HDT, salah satu mantan napi asal Sragen juga meyakinkan soal keterlibatan Aiptu JOK dan sipir AGP dalam peredaran narkoba di Sragen. Aksi tersebut disebut bisa dijalankan dengan leluasa karena posisi Aiptu JOK yang dulu menjabat sebagai penyidik di Satres Narkoba.

“Kalau AGP itu sebenarnya sudah lama begitu (makai dan mengedarkan). Cuma mainnya rapi sehingga nggak kelihatan,” ujar salah satu mantan sipir LP Sragen berinisial MM.

Di sisi lain, hingga kemarin, tim Satres Narkoba masih memburu dua oknum PNS yang ikut berpesta. SMUL (45), yang menjabat sebagai Kasie di Bidang Pajak Bumi Bangunan (PBB) DPPKAD dan satu PNS lainnya, berhasil lolos dari sergapan aparat saat penggerebekan berlangsung.

“Masih kita kejar terus,” ujar Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso melalui Kasat Narkoba, AKP Joko Satriyo Utomo ditemui di ruang penyidikan, Jumat (5/5/2017).

Sayangnya, AKP Joko tidak bersedia memberikan keterangan lebih lanjut
perihal kedua PNS itu dan bagaimana proses penyelidikan tiga aparat yang sudah ditahan. Kapolres sendiri juga belum bersedia memberikan konfirmasi perihal penangkapan dua Kanit dan sipir LP tersebut.

Terpisah, Kepala LP Kelas II A Sragen, Rudy Djoko Sumitro tidak menampik AGP adalah PNS di LP Sragen. Yang bersangkutan bertugas di staff fungsional umum pada bagian umum.

Ia juga kaget mendengar tertangkapnya AGP yang selama ini dikenal nyambi MC (master ceremony) itu karena selama kepemimpinannya, yang bersangkutan dikenal santun dan selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

Soal kesaksian beberapa mantan napi dan pelaku narkoba bahwa kedekatan AGP dengan narkoba sebenarnya sudah lama, Rudy mengaku sama sekali tak mengetahui hal itu.

“Kaget juga waktu dengar itu (ditangkap). Kami kemarin langsung bentuk tim khusus untuk melakukan investigasi.Tapi karena sementara masih
ditangani di Polres,kami menunggu pemberitahuan dan hasil dari Polres
dulu baru nanti melangkah,” jelasnya.

Sementara, Sekda Sragen, Tatag Prabawanto yang juga Plt Kepala DPPKAD
Sragen, mengaku belum mendapat laporan resmi dari Polres terkait adanya dua PNS yang ikut berpesta sabu dan saat ini kabur. Perihal keberadaan kantor PBB dan BPHTB yang dijadikan lokasi pesta sabu,
menurutnya hal itu di luar sepengetahuan Pemkab maupun dinas.

“Kami menunggu dari Polres dulu,” katanya. (#Wardoyo)