JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Menikmati 8 Jam di Sekolah

Menikmati 8 Jam di Sekolah

475
BAGIKAN

Johan Wahyudi
Guru SMPN 2 Kalijambe, Sragen

Saat membuka Pameran Pendidikan dan Peluncuran Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Siswa Sekolah Dasar di halaman Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (27/4/2017), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan bahwa mulai Tahun Ajaran 2017-2018, guru harus berada di sekolah selama 8 jam.

Kebijakan ini merupakan pelaksanan atas perintah Presiden Joko Widodo, yaitu perlunya dilakukan reformasi pendidikan dalam rangka revolusi mental. Sebagai gantinya, hari Sabtu dan Minggu tidak ada kegiatan di sekolah kecuali untuk kegiatan-kegiatan tambahan seperti ekstrakurikuler, pramuka, atau latihan kepemimpinan (kompas.com, 27/04/2017).

Kebijakan di atas bisa disebut pula sebagai implementasi dari Program Full Day School (FDS) yang pernah disampaikan Mendikbud pada awal pelantikannya. Waktu itu, beliau menyatakan bahwa anak sekolah SD dan SMP perlu bersekolah sehari penuh. Konsep ini, kata Menteri Muhadjir, demi mengakomodasi kesibukan orang tua. Pulang dari kantor, pukul 5 sore, ayah dan ibu bisa sekalian menjemput putra-putrinya dari sekolah.

Sontak wacana itu mendapatkan beragam tanggapan antara yang pro dan kontra dengan rencana kebijakan tersebut. Bagi pihak yang mendukung, kebijakan itu tentu dapat menenangkan orang tuanya karena anak-anak mendapatkan pengawasan yang baik di sekolahnya.

Pihak yang tidak mendukung menyatakan bahwa banyak fasilitas belum tersedia di sekolah untuk mendukung rencana tersebut. FDS memang baik, tetapi memerlukan dukungan fasilitas yang memadai dan anggaran yang cukup. Fasilitas itu akan digunakan para siswanya sehingga mereka memiliki aktivitas positif, seperti sarana olahraga, sarana ibadah, sarana kesenian dan lain-lain.

Dukungan dana juga sangat diperlukan karena otomatis para siswa dan guru akan makan dan minum di sekolah. Tidak hanya kebutuhan konsumsi, tetapi juga honorarium guru yang mendapatkan tugas tambahan. Darimana sekolah mendapatkan semua biaya itu? Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) jelas tak mungkin mencukupinya.