Menjaga Konsistensi Pengawalan Kebijakan

    Menjaga Konsistensi Pengawalan Kebijakan

    10

            Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Linmas dan Polresta Surakarta kembali menangkap basah enam pedagang bermobil yang tengah melakukan transaksi. Keenam pedagang tersebut langsung digelandang ke Pengadilan Negeri (PN) untuk menjalani proses hukum.

    Keenam pedagang tersebut tak mampu berdalih apapun karena memang tertangkap sedang melakukan transaksi dan aksi jual beli batik. Kepala Satpol PP Surakarta, Sutarjo menyayangkan masih adanya pedagang yang ndableg dan tidak mengindahkan peraturan.

    Meski operasi digencarkan, namun diakui Sutarjo sanksi yang diterapkan masih tahap ringan.  Pedagang bermobil  masih dikenai pasal Tipiring, dengan ancaman hukuman kurungan maksimal  tiga bulan  dan denda sebesar Rp 50 juta.

    Namun faktanya sebagian besar pedagang hanya mampu membayar denda sebesar Rp 350.000.  Bagi pedagang, besaran denda tersebut masih terbilang kecil,  karena nilai transaksinya bisa sampai jutaan hingga ratusan juta. Sutarjo berharap Hakim memberikan hukuman kurungan, misalnya dua atau tiga hari demi memberikan efek jera bagi pelaku.

    Baca Juga :  Masuk Kota Solo, Ini Dia Jalur Alternatif yang Bisa Dipilih Pemudik

    Langkah yang diambil oleh tim gabungan itu memang perlu diapresiasi. Disiplin dan ketegasan  memang harus  diterapkan  secara konsisten sejak awal. Pengalaman menunjukkan, sikap yang tidak tegas dan konsisten sering menjerat langkah Pemkot sendiri.

    Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi persoalan hampir di setiap kota, termasuk Solo, salah satu akarnya karena kurangya ketegasan Pemkot dalam menjaga area yang seharusnya bebas dari PKL. Tindakan baru diambil setelah kondisi crowded, sehingga sering memicu tindakan represif.

    Kita patut bersyukur saat Jokowi menjabat Walikota Solo dulu, berhasil memindahkan PKL dengan damai. Konsep manajemen public semacam itu memang patut diteruskan di masa sekarang. Salah satunya diawali dengan ketegasan petugas untuk berani menindak para pedagang yang dinilai melanggar aturan.

    Baca Juga :  Sido Muncul Konsisten Gelar Mudik Gratis Sejak Tahun 1991

    Salah satu kunci kesuksesan sebuah kebijakan biasanya terletak pada konsistensi pengawalan. Kita sering mendengar ungkapan, membangun itu mudah, namun merawat itu jauh lebih sulit dan rumit.

    Belum lama ini, Pemkot Solo juga telah melarang masyarakat buang sampah ke sungai, dengan menerapkan Perda Nomor 3 tahun 2010. Namun beberapa bulan berjalan, hingga Mei 2016 ini, Perda tersebut belum diterapkan dengan tegas. Sampai kini juga tak ada sanksi yang diterapkan bagi pelanggar. Sejauh mana Perda tersebut dikawal?

    Kita memang mengapresiasi tim gabungan yang dengan tegas melarang pedagang bermobil beroperasi di kompleks Pasar Klewer lantaran melanggar aturan. Namun jujur saja, masih ada kekhawatiran bahwa itu hanya bersifat obor blarak atau hangat-hangat tahi ayam. Nampak meriah di depan, namun sepi kemudian, dan akhirnya menghilang. Benarkah demikian? ***

    BAGIKAN