JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Perpustakaan Nasional dan Kita

Perpustakaan Nasional dan Kita

134
BAGIKAN
Dok Joglosemar
Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi (Solo)

Pada 17 Mei 2017, Perpustakaan Nasional berusia 37 tahun. Kita mungkin agak penasaran usia berjarak jauh dengan usia kemerdekaan Indonesia. Kebijakan mengadakan Perpustakaan Nasional memang terlambat meski sudah memiliki rentetan ikhtiar pendirian perpustakaan atau bibliotik sejak abad XIX. Sejarah perpustakaan terus bersambung tapi jarang menjanjikan terang literasi atau capaian adab berpustaka. Konon, perpustakaan termasuk perkara pokok dalam revolusi dan kemajuan Indonesia.

Kita mengingat warisan dari masa kolonial bernama Koninklijk Batvaiaasch Genoottschap van Kusten Wetenschappen (Jakarta) mulai diarahkan jadi modal pendirian perpustakaan nasional. Pada masa kolonial, perpustakaan milik pemerintah Belanda itu dianggap terbesar di Asia Tenggara. Pada masa 1950-an, usaha membesarkan dan memberi cap nasional atas warisan kolonial masih mengalami kesulitan: dana, gedung, koleksi, dan pustakawan. Pengakuan sebagai milik resmi pemerintah Indonesia mulai berlaku pada 1962. Situasi politik membuat lakon perpustakaan agak tercecer. Masa itu berganti kemunculan rezim Orde Baru. Perhatian mulai tampak pada masa 1980-an. Institusi bersejarah mendapat nama Perpustakaan Nasional Indonesia, sejak 1980. Pemberian nama belum berarti perubahan nasib atau kemajuan.

Impian kemuliaan Indonesia melalui Perpustakaan Nasional perlahan mewujud melalui peran Siti Hartinah Soeharto (Tien Soeharto). Kondisi bangunan dan pengelolaan Perpustakaan Nasional memicu keprihatinan. Tien Soeharto bersama Yayasan Harapan Kita menjanjikan bakal membangun gedung baru untuk Perpustakaan Nasional. Janji diwujudkan mulai 8 Desember 1985. Selama masa pembangunan, Tien Soeharto rajin meninjau dan memberi saran. Pada 11 Maret 1989, Presiden Soeharto meresmikan penggunaan gedung Perpustakaan Nasional. Peresmian berlangsung pada hari bersejarah Orde Baru. Gedung baru dipersembahkan oleh Tien Soeharto-Yayasan Harapan Kita pada negara. Soeharto dalam sambutan berkata: “Perpustakaan adalah keharusan kalau kita ingin maju.” Penggerak ide adalah Tien Soeharto. Pemberi pidato dalam peresmian adalah Soeharto. Sejarah mencatat peran dua tokoh itu dalam penentuan nasib Perpustakaan Nasional.