JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Petani di Boyolali Mulai Operasikan Combine Harvester

Petani di Boyolali Mulai Operasikan Combine Harvester

76
BAGIKAN
Joglosemar | Ario Bhawono
MESIN PANEN— Penggunaan mesin panen atau combine harvester makin diminati petani karena lebih efisien, terutama di tengah sulitnya mencari tenaga pertanian saat ini

BOYOLALI—Petani mulai mengoperasikan alat mesin pertanian (Alsintan) bantuan pemerintah. Seperti mesin pemanen atau combine harvester. Yang dilakukan Balai Benih Padi (BBP). Petugas teknis BPP Banyudono, Wardoyo mengatakan, penggunaan mesin ini mampu menekan biaya operasional selama panen cukup signifikan dibandingkan dengan panen manual menggunakan tenaga manusia. Penghematan bahkan bisa mencapai Rp 1.200.000/hektare.

“Kalau pakai buruh panen biasanya borongan habis Rp 2.800.000 per hektare, masih ditambah dengan sewa mesin perontok padi rata-rata Rp 600.000/hektare. Tapi kalau pakai mesin ini rata-rata biaya hanya Rp 2.000.000/hektare. Itu pun sudah termasuk bahan bakar dan ongkos operator,” jelas Wardoyo, akhir pekan lalu.

Setidaknya hal itu sudah dibuktikan BBP Banyudono. Sudah dua musim panen padi ini BPP mengoperasikan mesin panen bantuan dari pemerintah pusat tahun 2016 lalu itu. BBP Banyudono di antaranya memiliki areal pertanian di Desa Kuwiran, Banyudono seluas lima hektare, yang saat ini sedang panen seluas dua hektare.

Sayangnya, untuk musim panen kali ini, tonase panen padi jenis IR 64 kurang menggembirakan akibat serangan hama wereng beberapa waktu lalu. Padahal pihaknya juga sudah melakukan antisipasi seperti dengan penyemprotan desinfektan. Imbasnya, hasil panen pun kurang dari yang diperkirakan.

“Kurang bagus karena ada serangan wereng kemarin. Paling-paling dapat 2-3 ton/hektare,” imbuh dia. #Ario Bhawono