JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Petani Sukoharjo Diedukasi Kelola Dana Bantuan

Petani Sukoharjo Diedukasi Kelola Dana Bantuan

25
BAGIKAN
Joglosemar | Dynda Wahyu Wardhani
BERI KETERANGAN—Kepala Dispertan Sukoharjo, Netty Harjianty (paling kiri) memberikan keterangan didampingi Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Setyoko, Project Manager Program Kerja Sama HSBC-PSF, Wahyoe Sudarmono, dan Kepala Bagian Pengawasan IKNB, PM dan EPK, Tito Adji Siswanto.

SUKOHARJO—Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF) menyelenggarakan lokakarya yang diikuti Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kabupaten Sukoharjo di Auditorium Universitas Veteran (Univet), Sukoharjo, Sabtu (29/4). Kegiatan tersebut untuk membantu pengembangan bisnis petani di daerah setempat.

Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Setyoko mengatakan, lokakarya adalah bentuk edukasi untuk berbagi ilmu dalam pengelolaan keuangan.

Menurutnya, selama ini para petani yang mendapatkan guliran dana dari berbagai pihak mengira bahwa hal tersebut adalah dana hibah. Akibatnya, dana tersebut malah tidak berlanjut dalam pengelolaan yang baik. Sehingga akses permodalan terus terhambat.

“Kami ingin petani memiliki pengetahuan khusus untuk bisa memisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis. Tujuannya adalah mendukung petani agar mendapatkan akses layanan perbankan untuk membantu bisnis dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” paparnya saat memberikan sambutan.

Sementara, Project Manager Program Kerja Sama HSBC-PSF, yang juga ekonom dari Sampoerna University, Wahyoe Sudarmono menambahkan, bimbingan keuangan ini tidak akan berhenti sampai di sini saja.

Kedepan, mahasiswa dari Univet diharapkan akan terus membimbing Gapoktan dalam pengelolaan keuangan dan agribisnis. Sementara bagi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) akan dibimbing dalam peningkatan kemampuan pembentukan dan pengelolaan lembaga, serta penguatan kualitas manajemen resiko kredit.

Kepala Dinas Pertanian Sukoharjo, Netty Harjianti mengaku terus mendorong LKM yang sudah terbentuk agar mempercepat proses menjadi LKM yang berbadan hukum agar sistem keuangan lebih terjamin.

“Ada 50.000 lebih petani di Sukoharjo. Namun tidak semua memenuhi syarat masuk dalam Gapoktan. Tapi dari sini kami optimistis semua petani bisa saling menularkan ilmu dan berkembang bersama-sama,” tandasnya. Dynda Wahyu Wardhani