JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Peternak Endus Indikasi Kartel Sapi di Sragen

Peternak Endus Indikasi Kartel Sapi di Sragen

239
BAGIKAN
ilustrasi sapi. Foto : Ario Bhawono

SRAGEN – Peternak sapi di wilayah kabupaten Sragen mengeluhkan terus merosotnya harga jual sapi di tengah kondisi harga daging di pasaran yang cenderung stabil tinggi.

Mereka pun mendesak pemerintah segera menelusuri indikasi adanya kartel yang dicurigai bermain sehingga membuat kesenjangan harga mencolok antara jual petani dan daging.

“Kami curiga memang ada permainan dan kartel. Karena saya beli daging sapi juga harganya masih stabil Rp 120.000. Sementara harga jual sapi saat ini anjlok terus. Tidak hanya harga tebasan, harga jual sapi jogrog (hidup) per kilonya tinggal Rp 37.000. Padahal dulu sampai Rp 40.000 lebih,” ujar Budiyono, salah satu peternak sapi di wilayah Plupuh, Selasa (30/5/2017).

Ia memandang kesenjangan harga jual sapi dengan harga daging yang mencolok itu harusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Pasalnya, tidak menutup kemungkinan, ada pihak yang memanfaatkan situasi dengan memainkan harga beli sapi di tingkat bawah untuk mengeruk keuntungan.

Akibat kondisi itu, para peternak sangat dirugikan. Terlebih saat ini harga biaya produksi, seperti konsentrat juga terus naik dari Rp 148.000 per sak menjadi Rp 160.000 per sak.

Pihaknya juga menyayangkan tidak adanya proteksi dan keberpihakan pemerintah terhadap peternak sapi di tingkat bawah.

Hal itu tercermin dari rencana pemerintah yang kembali akan melakukan impor 50.000 ton daging dari India. Padahal, menurutnya realita di lapangan, stok sapi pedaging di tingkat peternak, termasuk di Sragen, sangat berlimpah.

“Kenapa pemerintah nggak pernah melihat ke lapangan tapi lebih mendengarkan desakan impor. Padahal di lapangan itu peternak sapi banyak dan stok juga banyak. Kalau mau swasembada mestinya peternak diperhatikan, diberi subsidi dan harga jual sapi diproteksi. Bukan malah sedikit-sedikit impor, sementara harga sapi lokal dibiarkan menjadi main-mainan mafia,” timpal Sutarno, peternak asal Tanon.

Ketua Perkumpulan Peternak Sapi (PPS) Sragen, Sri Warsito juga menyayangkan rencana impor daging kerbau dari India. Menurutnya kebijakan itu akan merugikan peternak lokal yang saat ini sudah merana akibat anjloknya harga jual.

Ia juga mendesak Bulog dan Menteri Pertanian (Mentan) turun ke lapangan untuk melihat ketersediaan sapi di tingkat peternak yang sebenarnya cukup melimpah.

Menurutnya dengan terjun ke lapangan, setidaknya bisa memberikan prioritas untuk pengamanan harga jual sapi serta menghindari impor yang diyakini kian menyengsarakan petani.

“Apalagi adanya wacana impor daging itu sudah langsung membuat harga anjlok. Imbasnya harga sapi betina dan bakalan juga nggak laku. Kami curiga, sebenarnya ini ada permainan apa dan dimana keberpihakan pemerintah terhadap peternak,” ujarnya geram.

Sementara, berdasarkan pantauan harga dari situs resmi sistem pengendali harga dan produksi komoditi (Sihati) Jawa Tengah, harga daging sapi di sejumlah daerah di eks Karesidenan Surakarta per Selasa (30/5) kemarin memang cenderung stabil tinggi antara Rp 100.000 hingga Rp 120.000.

Seperti di Sukoharjo masih tercatat Rp 110.000, Solo Rp 120.000. Di Sragen sendiri, daging sapi dilaporkan berada di harga Rp 99.000 hingga Rp 100.000 per kilogram di tingkat pengecer.

#Wardoyo