JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Produk Warga Gilingan Ini Curi Hati Atlet Asia Tenggara

Produk Warga Gilingan Ini Curi Hati Atlet Asia Tenggara

39
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
KERAJINAN KANO- Perajin menyelesaikan proses pembuatan Kano di rumah produksi kawasan Kadipiro, Solo, Kamis (11/5). Kano tersebut dijual mulai harga Rp.7 Juta sampai Rp.15 Juta.

Dari tangan terampil lelaki ini, sejumlah alat olahraga dihasilkannya. Polesan karyanya yang berkualitas, membuatnya banyak dipercaya banyak pihak, bahkan skala nasional. 

Kreativitas memiliki harga yang cukup mahal. Apalagi didukung kredibilitas serta kualitas yang bagus. Termasuk dalam membuat sebuah karya yang notabene tidak banyak dibutuhkan masyarakat.

Akan tetapi, karena produk unik dan terbatas itulah Wahyudi, warga Sambeng RT 03 RW 01, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari ini justru memperoleh keberuntungannya.

Ya, selama 12 tahun terakhir, pria yang akrab disapa Yudi ini menjadi salah satu penyuplai alat olahraga cabang dayung dalam kompetisi olahraga tingkat nasional hingga tingkat Asia Tenggara.

Ayah dua anak ini membuat kano dan kayak standar nasional untuk para atlet dayung berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga Sea Games.

“Membuat kano sesuai standar nasional tidak bisa sembarangan. Setiap jengkal ukuran harus diperhitungkan dengan cermat. Mulai dari bentuk, presisi hingga berat kano saat digunakan harus benar-benar seimbang. Kalau hanya asal-asalan yang dipertaruhkan bisa sampai ke nama baik instansi, bukan cuma perorangan karena yang memesan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI),” tuturnya saat ditemui di rumah produksi kanonya di Kampung Gambirsari RT 04 RW 13, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kamis (11/5/2017).

Saat ini, Yudi dibantu dua pegawainya tengah menyelesaikan salah satu Kayak pesanan Tim Kayak Kalimantan dan Riau untuk bertanding dalam event PON tahun depan.

Menggunakan bahan dasar fiber, Kayak awalnya dibentuk dengan mencetaknya menggunakan wadah cetak atau mold berbentuk lambung kapal.

“Kemudian dari wadah cetak dilapisi fiber dan didempul berkali-kali. Setelah jadi bentuk kasarnya baru selanjutnya dihaluskan dengan amplas dan dicat. Disempurnakan juga untuk ruang duduk pengguna. Untuk kapasitas satu orang biasanya bisa selesai sekitar satu minggu, namun untuk kapasitas empat orang bisa sampai dua minggu,” lanjutnya.

Mengawali pembuatan karyanya sejak tahun 2005, Yudi yang memimpikan hasil karyanya mampu menembus pasar internasional tersebut mengaku memperoleh keahlian dari ayahnya.

“Sebelumnya saya memang membuat alat-alat peraga pendidikan dan furniture dari fiber, ilmunya dari ayah saya. Saya memutuskan berpindah haluan untuk membuat kano terinspirasi dari teman yang membuat kano untuk wisata. Membuat kano tidak terlalu ribet dan hasilnya lumayan besar. Setiap kano dijual dengan harga antara Rp 7 juta hingga Rp 16 juta tergantung ukuran,” pungkasnya.

Triawati Prihatsari Purwanto