JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Rasa Gembira Yang Seperti Ini Ternyata Bisa Merusak

Rasa Gembira Yang Seperti Ini Ternyata Bisa Merusak

82
BAGIKAN
Ilustrasi|Dok Joglosemar

          Rasa gembira yang berlebihan, pada titik tertentu bisa berakibat buruk, sampai pada risiko kematian. Tak perlu berpikir sampai pada kematian, segala sesuatu yang berlebihan, apapun itu, bisa berakibat tidak baik. Orang bisa terjebak pada pilihan gaya hidup yang tidak sehat, sehingga tidak memprioritaskan faktor kesehatan.

Kegembiraan yang berlebihan juga disebut-sebut sebagai salah satu faktor risiko gangguan mental bipolar. Pada gangguan tersebut, mood atau suasana hati bisa berubah secara ekstrem dari yang semula sangat gembira menjadi sangat menderita.

          Kegembiraan dalam konteks di atas masih tergolong tidak berbahaya karena risikonya bersifat internal dan personal. Namun efek kegembiraan yang berlebihan, apalagi bila bercampur dengan kebanggaan yang membuncah, ternyata bisa berefek merusak. Salah satu contohnya kegembiraan saat para siswa SMA/SMK merayakan kelulusan mereka dari bangku sekolah.

          Efek kegembiraan kelulusan tahun ini bukannya membaik, namun malah lebih buruk. Kalau tahun lalu para siswa relatif hanya melakukan konvoi dan arak-arakan sembari mencorat-coret baju mereka dengan aneka warna pilox dan spidol, tahun ini lebih heboh, karena arak-arakan siswa bersifat anarkis dan beringas.

          Mestinya, para siswa ini bergembira karena merasa telah lulus dari sekolah. Namun perangai mereka seolah tidak menunjukkan orang-orang yang sedang bergembira. Orang awam bisa jadi malah bingung lantaran tak bisa membedakan, reaksi orang yang gembira dengan orang marah ternyata sama saja, yakni merusak dan melukai.