JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Ruwahan Menyambut Ramadan

Ruwahan Menyambut Ramadan

160
Antara | Aditya Pradana Putra
Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA

Bulan   Suci Ramadan atau Pasa sudah di depan mata. Kini telah masuk pada akhir bulan Sya’ban  atau ruwah. Akulturasi budaya dan Islam sangat kental di Nusantara termasuk Jawa di bulan ini melalui tradisi ruwahan.

Ruwahan di beberapa daerah dimulai sejak awal bulan dan ada yang sepuluh hari jelang ramadan. Ritus dan kultur yang dilakukan beragam antara lain bersih dusun, kendhuren, tahlilan, megengan, nyadran, hingga padusan. Semua ini dilakukan guna mempersiapkan dan menyambut kehadiran bulan Ramadan. Upaya nguri-uri dengan tetap menjunjung urusan syar’i  penting untuk optimalisasi diri dan kemasyarakatan.

Tradisi Ruwahan

Filosofi Ruwahan melambangkan kesucian dan rasa sukacita memasuki ibadah puasa yang merupakan bentuk iman kesalehan individual dan sosial (Hananto, 2017). Ruwahan merupakan perwujudan praktik doa bagi keluarga dan tetangga  yang masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yang suci penuh suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa.

Beberapa tradisi ruwahan awalnya merupakan tradisi Hindu-Budha. Walisongo sejak abad ke-15 para Walisongo melakukan strategi akulturasi. Penggabungkan tradisi tersebut dengan dakwah dimaksudkan agar agama Islam dapat dengan mudah diterima masyarakat. Penyelarasan dilakukan melalui penambahan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa.Tujuan para wali sesungguhnya adalah untuk  meluruskan kepercayaan masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam berkategori musyrik (Lupiyanto, 2016).

Tradisi megengan identik dengan sajian makanan ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiganya memiliki makna folosofis. Ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi. Kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan. Sedangkan apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan.

Selain bermakna simbol-filosofis teologi dan budaya, tradisi-tradisi ruwahan juga memberikan nilai sosial ekonomi. Nilai sosial antara lain mempererat kekeluargaan dan kemasyarakatan. Awalnya mudik justru dikenal saat ruwahan. Mudik dilakukan untuk melakukan tragisi megengan dan nyadran ke makam orang tua dan leluhurnya. Roda perekonomian juga turut berputar atas pelaksanaan tradisi ruwahan. Pihak yang mendapatkan kemanfaatan ekonomi antara lain sektor transportasi, pedagang bunga, pedangan bahan makanan, pedagang pasar, dan lainnya.

1
2
BAGIKAN