JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Satu Tersangka Konvoi Brutal di Klaten Dijerat UU Darurat

Satu Tersangka Konvoi Brutal di Klaten Dijerat UU Darurat

1878
Kasat Reskrim Polres Klaten, aKP David Widya Dwi H saat menunjukkan barang bukti yang dibawa tersangka RS (23) saat konvoi pelajar di Klaten, Selasa (2/5/2017). Foto : Dani Prima

KLATEN—Satuan Reskrim Polres Klaten menetapkan satu orang sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan oleh massa konvoi lulusan pada Selasa (2/5/2017) lalu.

Tersangka penganiayaan berinisial RS (23), warga Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan.

Status tersangka ditetapkan setelah dilakukan pemeriksaan secara maraton terhadap 136 orang (sebelumnya ditulis 113) yang ditangkap saat mengikuti konvoi kelulusan.

Kasat Reskrim Polres Klaten AKP David Widya Dwi Hapsoro mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara sebanyak 121 orang dipulangkan lantaran tidak terbukti bersalah, sementara 15 orang menjalani pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan mengerucut hingga menetapkan RS sebagai tersangka dan 14 lainnya dikenai wajib lapor.

“Tersangka RS terbukti memiliki dan membawa senjata tajam saat ikut konvoi, yakni sebuah badik yang disimpan di dalam tas selempang. Atas perbuatannya, tersangka kita jerat pasal 2 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara,” jelas David saat gelar perkara di Mapolres, Kamis (4/5/2017).

Menurutnya, sejauh ini masih dilakukan pendalaman terkait badik yang dibawa tersangka dengan peristiwa penganiayaan yang dialami para pelajar.

“Jika dari hasil pengembangan nanti ternyata senjata itu digunakan untuk tindak penganiayaan, bisa dikenakan pasal berlapis,” kata David.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi identitas sejumlah orang yang diduga turut serta dalam konvoi kelulusan dan melakukan penyerangan terhadap sejumlah siswa. Dugaan sementara pelaku berasal dari Sleman.

“Dari penyelidikan, dugaan pelaku berasal dari Kabupaten Sleman. Saat ini kami masih melakukan pengejaran,” ungkap David.

Meski ikut konvoi merayakan kelulusan, namun RS bukanlah pelajar yang baru lulus. Ia diketahui sudah bekerja sebagai buruh.

Ironisnya, RS yang tidak lulus SMP ikut-ikutan mengenakan seragam abu-abu dan aksi corat-coret dengan cat semprot.

“Motor saya waktu itu mogok saat ditangkap. Saya tidak pakai seragam sekolah dan tidak tahu itu (konvoi). Saya memang sengaja membawa badik untuk berjaga-jaga,” kata RS membantah.

Dani Prima

BAGIKAN