JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Sekuntum (Cerita) Bunga di Solo

Sekuntum (Cerita) Bunga di Solo

101
BAGIKAN
Dok Joglosemar
Heri Priyatmoko
Dosen Sejarah, Universitas Sanata Dharma Sejarawan Solo

Kabar pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia bergentayangan di media sosial. Ideologi dan gerakan HTI dinilai merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita diingatkan tak lelah menjaga persatuan bangsa. Teringat dengan karangan bunga yang dikirim ke Balai Kota Solo, beberapa waktu lalu. Karangan bunga itu mayoritas berisi dukungan kepada pemerintah, Polri, serta TNI dalam menjaga NKRI.

Bunga tersebut mengandung simbol yang tak sepele. Bukan hanya hidup di ranah politik, bunga alias kembang atawa sekar juga mengusung pesan mulia di lingkup budaya. Manusia Jawa menciptakan istilah sekar setaman. Pengertian ini merujuk pada ragam bunga wewangian yang dipakai dalam pernikahan adat Jawa. Butuh wewangian saat proses memandikan calon pasangan pengantin (siraman), yaitu air yang digunakan untuk menyiram dilengkapi beraneka ragam bunga. Sekar setaman terdiri dari kembang mawar, melati, kenanga, dan kanthil.

Setelah selesai menyiapkan air dengan bunga yang diperlukan, calon pengantin didudukkan pada sebuah tempat yang sudah dilambari atau beralaskan ragam bunga. Seperti ron (daun) alang-alang, ron amaja, ron dhadhap serep, ron apa apa, ron kluwih, ron kara, dan ron kemuning. Proses siraman selesai, calon pengantin dianjurkan untuk mandi secara pribadi dengan beberapa bahan guna membersihkan diri. Bahan tersebut terdiri dari beraneka warna tepung yang dicampuri mangir, pandanwangi yang dipotong lembut, dan ron kemuning yang dibuat lembut (lulur). Setelah melakoni mandi itu, badan pengantin pun beraroma wangi.

Dalam riset saya bersama M. Aprianto (2016) terlacak bahwa sekar setaman yang menguarkan bau wangi ini kaya akan makna. Ia merupakan kumpulan kembang kanthil, melati, mawar, dan kenanga. Pertama, kanthil oleh orang Jawa dimaknai kanthi laku, tansah kumanthil. Kehidupan harus ada tali rasa (kumanthil), antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan. Kedua, melati (mlati) atau jasmine bermakna rasa melad saka njero ati. Artinya, segala ucapan dan tindakan mestinya mengandung ketulusan yang berasal dari hati nurani. Ketiga, mawar. Mawi-Arsa memuat arti kehendak atau niat. Segala hal yang dilakoni sebaiknya dilambari niat tulus serta apa adanya. Keempat, kenanga. Keneng-a!, artinya gapai atau capailah segala keluhuran seperti yang telah lakukan leluhur. Maksudnya, generasi penerus kudu meneladani perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang dicapai para leluhur dan para ulama semasa hidup.