JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Sepekan Terakhir, Mbah Gotho Hanya Mau Minum Teh Hangat

Sepekan Terakhir, Mbah Gotho Hanya Mau Minum Teh Hangat

438
BAGIKAN
Pelayat silih berganti datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada Mbah Gotho, Senin (1/5/2017). Foto : Wardoyo

SRAGEN – Sodimejo alias Mbah Gotho, manusia yang diklaim tertua di dunia asal Sragen, meninggal dunia Minggu (30/4) petang di usia tepat 146 tahun empat bulan.

Kepergian kakek asal Dukuh Segeran RT 18/8, Desa Cemeng, Sambungmacan itu dinilai tidak hanya menjadi duka bagi Sragen namun juga dunia yang sudah mengenang namanya sebagai pemilik usia tertua saat ini.

Mbah Gotho meninggal Minggu petang sekitar pukul 18.00 WIB di rumahnya. Pria yang Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya tercatat lahir pada 31 Desember 1870 itu tutup usia dengan meninggalkan 25 cucu, 27 cicit (buyut) dan 12 canggah.

Usia ini juga dibuktikan dengan ingatannya soal pendirian pabrik gula (PG) di Gondang yang memang dibangun pada akhir 1800-an.

Mbah Gotho dimakamkan Senin (1/5/2017) di pemakaman umum Dukuh Tanggung, Grasak, Plumbon, Sambungmacan, tak jauh dari rumahnya.

Sebelum meninggal, ia sempat dirawat di RSUD Sragen selama tujuh hari pada 12-17 April 2017 dengan diagnose melena dan penurunan hemoglobin (HB).

Beberapa hari sebelum drop, Mbah Gotho masih sempat melayani permintaan tes kesehatan oleh tim dokter Amerika Serikat (AS) untuk memastikan usianya dan hendak mencatatkannya di museum rekor dunia sebagai manusia tertua.

“Sempat dirawat di RSUD, Mbah Gotho tidak betah dan minta pulang ke rumah. Di rumah kondisinya terus melemah hingga akhirnya meninggal,” ujar Suwarni, cucu Mbah Gotho.

Suwarni yang setia mendampingi kakeknya itu menuturkan selama sepekan di rumah sepulang dari rumah sakit, Mbah Gotho kembali mogok makan. Dia hanya mau minum teh hangat buatan anak dan cucunya tanpa ada asupan lain.

Meski kondisi tubuhnya menurun, Mbah Gotho sempat meminta kepada dirinya untuk membantu berdiri dan berjalan. Padahal saat itu kondisi fisiknya sudah tidak berdaya.

“Terakhir ingin dibantu berdiri saja, ingin berjalan. Padahal sudah tidak bisa apa-apa. Dua hari tidak mau makan dan minum. Inginnya mati saja,” cerita Suwarni.

Wardoyo