JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Seperti Ini Tuntutan Untuk Kuliner Solo

Seperti Ini Tuntutan Untuk Kuliner Solo

26
BAGIKAN
ilustrasi tengkleng

SOLO –  Forum for Economic Development and Employment Promotion (FEDEP) Surakarta mendorong agar kuliner di Solo bisa mempunyai standar kesehatan dan kebersihan.

“Kuliner di Solo itu sudah ter-branding dengan baik dan populer. Sekarang kesadaran dan tuntutan masyarakat tinggi. Pasti standarnya berkaitan dengan higienis, kesehatan, kebersihan, halal dan lainnya,” terang Ketua FEDEP Surakarta, David R Wijaya kepada wartawan di sela-sela workshop strategi penguatan wisata kuliner Kota Solo di Omah Sinten, Rabu (11/5/2017).

Kondisi ini menjadi tantangan Pemkot ataupun pelaku kuliner untuk bisa mengemas dan mengkonsep agar bisa disajikan dengan memenuhi kriteria tuntutan pasar.

Lanjut dia, kesemuanya itu memerlukan riset dan pelaku usaha tidak bisa mempersiapkan sendiri. Maka pemerintah harus masuk dan berperan aktif untuk melakukan terobosan dengan menggandeng perguruan tinggi.

“Tengkleng atau Sate Kere itu penuh dengan kolesterol. Itu bagaimana memilih bahan atau men-treatment untuk meminimalisir atau menghilangkan sama sekali lemaknya. Di beberapa negara itu lebih selektif dalam mengkonsumsi daging dengan mencari terobosan,” katanya.

David mengatakan hal ini tidak hanya untuk kuliner yang siap saji tapi juga oleh-oleh yang dibungkus untuk bisa mencapai standar seperti itu.

“Standardisasi kuliner di tingkat global itu sangat ketat. Jadi harus ada kriteria khusus yang dipersyaratkan baik dari sisi medis atau kesehatan. Bila perlu harus melalui pemeriksaan Badan Penelitian Obat dan Makanan (BPOM) dan penerbitan sertifikat khusus,” paparnya.

Kalau kesemuanya itu bisa dilakukan, dirinya meyakini Solo akan makin populer. “Jadi orang tidak perlu tanya ini aman dan higienis. Ini harus pelan-pelan tidak bisa langsung dan riset dulu,” sambungnya.

Sementara itu Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Solo, Retno Wulandari menyatakan jika kuliner sehat harus ada edukasi sesuai dengan standar yang ada.

Dikatakan dia, jika hotel pasti ada standar tersendiri dan paham bagaimana yang diinginkan konsumen.

“Tapi kalau itu untuk menyasar wisatawan asing, ternyata jumlahnya tidak banyak. Jadi arahnya itu juga wisatawan domestik. Mereka kalau datang ke pasti carinya kuliner, seperi cabuk rambak, nasi liwet atau brambang asem,” ungkapnya.

Retno menambahkan, sekarang ini di Solo banyak bermunculan kuliner-kuliner baru. Kendati demikian hal itu tidak mengganggu kuliner yang sudah ada.

“Untuk kuliner yang bisa go internasional itu harus di riset dulu, karena harus melihat kemampuan perut mereka. Kuliner Solo itu banyak dan beragam, semua punya kekuatan dan kekhasan sendiri,” tandas General Manager The Sunan Hotel ini.

#Ari Welianto