JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan Setelah 19 Tahun Digelar, 2 Mahasiswa UNS Ini Akhirnya Jadi Pemenang

Setelah 19 Tahun Digelar, 2 Mahasiswa UNS Ini Akhirnya Jadi Pemenang

90
BAGIKAN
Joglosemar | Dwi Hastuti
Lia dan Muhammad

Setelah 19 tahun digelar, akhirnya salah satu peserta dari Indonesia yang berasal dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) berhasil menjadi 6 Winning Essays di ajang The Nineteenth Berkeley Undergraduate Prize for Architectural Design Excellence 2017. Dua Mahasiswa UNS tersebut adalah Muhammad Satya Irfananda dari Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) dan Lia Sparingga Purnamasari dari Perencanaan Wilayah Kota (PWK) FT UNS.

Kepada wartawan, Lia mengaku mengirim abstrak dalam kompetisi tersebut pada November 2016 lalu. Ribuan karya dari seluruh dunia masuk di ajang tersebut dan diambil 25 karya terbaik. “Alhamdulillah karya kami masuk 25 karya terbaik. Kemudian kami disuruh menulis essay dengan panjang maksimal 2.500 kata,” ujar Lia, Rabu (3/5).

Kemudian pada Maret kemarin, esai yang dikirim berhasil masuk 10 terbaik. “Dan pada pertengahan bulan April kemarin baru diumumkan bahwa esai kami menjadi 6 Winning Essays,” imbuh Lia.

Tentunya hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Muhammad Satya Irfananda dan Lia. Pasalnya setelah 19 kali digelar atau bisa dibilang 19 tahun digelar, baru kali ini perwakilan dari Indonesia masuk di ajang The Nineteenth Berkeley Undergraduate Prize for Architectural Design Excellence 2017.

Muhammad Satya Irfananda menambahkan dalam kompetisi tersebut mengangkat tema Arsitektur Mahasiswa. Dua mahasiswa dari FT UNS tersebut mengangkat tema Repurpose to Survive: Lessons From Surakarta. Irfananda dan Lia mengangkat tiga komunitas yaitu Sangkrah, Kepatihan Kulon dan di Candi Cetho.

Di Sangkrah, mereka mengangkat sebuah bangunan pos kampling yang dimanfaatkan sebagai rumah baca. Rumah baca tersebut bisa dimanfaatkan anak-anak di sekitarnya untuk membaca sehingga bisa meningkatkan budaya literasi.

Kemudian di Kepatihan Kulon tersebut terdapat bangunan rumah joglo kuno yang bisa dimanfaatkan untuk belajar budaya seperti latihan teater. Lalu di Candi Cetho terdapat banyak bangunan pura, oleh sebagian komunitas Hindu di sana, bangunan pura dibersihkan dan itu mampu menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Candi Cetho.

“Jadi lebih bagaimana komunitas itu memanfaatkan bangunan yang ada untuk kegiatan yang bermanfaat,” kata Lia. Lantaran jadi 6 Winning Essays, mereka berdua berhak mendapat hadiah 500 dollar. “Ya bahagia banget karena selama ini dari Indonesia belum pernah ada yang tembus di ajang tersebut dan ini pertama kalinya perwakilan dari Indonesia bisa masuk setelah 19 kali digelar,” pungkas Lia. Dwi Hastuti