JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pendidikan Simposium Etnomusikologi di ISI Surakarta, Membaca Kebutuhan Masyarakat

Simposium Etnomusikologi di ISI Surakarta, Membaca Kebutuhan Masyarakat

14
BAGIKAN
SIMPOSIUM – Pengukuhan Asosiasi Program Studi Etnomusikologi Indonesia serta deklarasi Masyarakat Etnomusikologi Indonesia. Foto : Dok Akademia ISI

Simposium merupakan pertemuan dengan beberapa pembicara dengan pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang beberapa aspek dari topik yang sama.

Dalam hal ini, simposium etnomusikologi sebagai sarana untuk mempersatukan persepsi antar program studi etnomusikologi yang ada di perguruan tinggi se-Indonesia.

Acara yang diadakan Sabtu (13/5/2017) dihadiri oleh lima delegasi perguruan tinggi di Indonesia antara lain Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Mulawarman Kalimantan, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia  (ISI) Yogyakarta, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kelima delegasi tersebut merupakan perguruan tinggi yang memiliki program studi etnomusikologi.

Menurut Sukoco (dosen ISI Yogyakarta) pertemuan ini dilakukan guna untuk menyamakan persepsi dan kurikulum yang telah ada. Dalam hal ini terdapat 14 kurikulum mata kuliah yang disamakan dari ke lima delegasi, sisanya mengikuti aturan masing-masing program studi.

Setiap delegasi telah mengemukakan kondisi program studi etnomusikologi dari perguruan tinggi masing-masing. Salah satunya yaitu delegasi dari IKJ yang mengemukakan tentang jumlah mahasiswa etnomusikologi yang masih sangat kurang dibanding perguruan tinggi lain. Selain persoalan jumlah mahasiswa, beberapa sarana dan prasarana dalam menunjang proses perkuliahan sangat terbatas.

Lain halnya dengan program studi etnomusikologi di USU (Universitas Sumatera Utara) yang setiap tahunnya mengadakan perekrutan melalui jalur SBMPTN dengan 300-400 peminat dengan penerimaan kuota hanya 80 orang.

“Dalam hal ini peminat yang banyak tidak diimbangi dengan kuota penerimaan lebih. Ini menjadi catatan bagi masing-masing program studi untuk memaksimalkan kuota mahasiswa, mengingat masih kurangnya lulusan etnomusikologi di Indonesia,” terangnya.

ISI Surakarta menginginkan program studi untuk menimbang etnomusikologi terapan antara lain, kualitas input, minat pelajar, kebutuhan pragmatis idealis masyarakat terhadap musik, perkembangan kajian etnomusikologi luas dan beragam, realitas dunia kerja lulusan, dan kompetensi dosen terhadap pendidikan.

Dosen Isi Surakarta, Zulkarnain M, mengatakan, hal-hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pengembangan etnomusikologi yaitu pada etnomusikologi terapan.

Dengan membaca kebutuhan masyarakat dan ketika berhadapan dengan masyarakat, kompetensi etnomusikologi sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan beberapa hal yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat. “Sehingga para peneliti mampu mengembangkan ide dengan instalasi bunyi yang berpotensi bermanfaat bagi masyarakat,” urainya.

Dengan hal ini karya terapan dapat dijadikan karya riset. Kemudian diharapkan pula dapat mengembangkan program studi baru. Perkembangan sajian musik yang luas dan beragam menjadi salah satu modal dalam etnomusikologi terapan. Dan yang terakhir Etnomusikologi dapat dikembangkan dari murni menjadi terapan.

Kelima delegasi tersebut memprakarsai MEI guna untuk menjalin relasi etnomusikolog Indonesia secara luas. Dalam hal ini perekrutan anggota dibuka untuk umum, tidak hanya yang memiliki gelar etnomusikolog bahkan para pemerhati budaya maupun peneliti yang bergerak di bidang etnomusikologi dapat ikut serta mengikuti MEI.

MEI bukan hanya sekedar perkumpulan para etnomusikolog tetapi diharapkan juga bisa menghasilkan jurnal etnomusikologi. Dengan hal ini tentunya sangat membantu keberlangsungan Prodi Etnomusikologi.

Rasita Satriana, Ketua Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta mengemukakan “Semoga prodi etnomusikologi tidak hanya membuka jenjang S-1 saja, bahkan bisa S-2 atau S-3,” katanya. Tahap awal sudah baik hanya saja masih banyak pembenahan.

Akan tetapi, Dewi sebagai salah satu Dosen yang baru berkecimpung di dunia Etnomusikologi pada tahun 2015 mengemukakan bahwa sebelum membuka jenjang di S-2 dan S-3, lebih baik fokus terhadap nasib alumnus yang masih banyak kurang mendapatkan perhatian dalam hal lapangan pekerjaan apabila sudah jelas, baru membuka jenjang berikutnya.

Hasil dari simposium ini juga dikukuhkan Asosiasi Program Studi Etnomusikologi (APSEI) dan Masyarakat Etnomusikologi Indonesia (MEI). APSEI dengan menggunakan titik fokus pada kurikulum yang diajarkan agar sama rata di semua perguruan tinggi dan mendeklarasikan MEI yang bertujuan menarik masyarakat agar ikut serta dalam dunia penelitian Etnomusikologi dan tentunya ada tahap seleksi.

Sayangnya simposium yang diselenggarakan di ISI Surakarta kurang dipublikasikan terhadap mahasiswa, yang mengakibatkan sedikitnya apresiasi, ikut serta dan kepedulian dalam acara tersebut.

Penanggung Jawab      : Suroto, M.Sn | Redaktur   : Ita Puspita Dewi | Reporter      : Slamet Budi Raharjo | Fotografer  : Muhammad Adi Candra