JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan Singgih Purnomo, Konsen Kembangkan Pendidikan Keterampilan

Singgih Purnomo, Konsen Kembangkan Pendidikan Keterampilan

41
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
Drs H Singgih Purnomo, MM, Pemilik STIMIK DUTA BANGSA

Dunia pendidikan tak bisa lepas dari sosok ini. Dia mendirikan sejumlah Perguruan Tinggi (PT) di Solo, bahkan merambah ke daerah lain. Dialah Drs H Singgih Purnomo, MM.

Hal itu dilakukan lantaran ingin menyiapkan dan mencetak tenaga yang siap kerja setelah luluh kuliah. Singgih mendirikan beberapa lembaga pendidikan yang berbasis keterampilan dan keahlian.

Menurutnya, sekarang ini yang dibutuhkan di Indonesia itu keterampilan, sehingga lewat lembaga pendidikan yang di didirikan itu mendidik mahasiswa agar cepat kerja.

“Kendala dari pendidikan-pendidikan akademik itu pada saat bekerja harus di training ulang sementara mahasiswanya tidak perlu,” ujar dia saat ditemui di Kampus Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMIK) Duta Bangsa Surakarta.

Singgih, terjun di dunia pendidikan itu berawal menjadi guru SMA terlebih dahulu di luar Jawa dan sempat menduduki jabatan wakil kepala sekolah selama lima tahun dari 1986-1991.

Kemudian, pulang ke Jawa dan membuka kursus komputer pendidikan satu tahun di Solo tahun 1995 dan berkembang menjadi Perguruan Tinggi (PT) sejak tahun 2002 lalu.

Langkahnya mengembangkan dunia pendidikan tak terhenti sampai di situ, setelahnya dia mendirikan Akademis Perekam Medis (Apikes) Citra Medika dan di tahun yang sama mendirikan Politeknik Indonusa.

Usahanya terus berkembang kemudian tahun 2004 lalu mendirikan STIMIK Duta Bangsa dan tahun 2007 Akademi Kebidanan (Akbid) Citra Medika. Bahkan, merambah dengan mendirikan SMK Citra Media di beberapa daerah.

“Saya ingin mahasiswa di sini setelah lulus bisa langsung kerja. Persaingannya dunia kerja itu cukup ketat, jadi harus punya keterampilan atau keahlian,” terang Ketua STIMIK Duta Bangsa ini, Sabtu (6/5/2017).

Diakuinya, dari dulu sisi kejiwaan saat memang ngeh di dunia pendidikan. Jadi lebih suka mendidik orang dan orang itu berhasil maka akan memiliki kebanggaan tersendiri.

Dalam mendirikan sekolah ini, dirinya belajar dari pengalaman orangtuanya yang pernah mendirikan sekolah tapi tidak berhasil. Jadi, bagaimana bisa tidak berhasil dan itu pastinya ada faktornya.

“Saya banyak belajar dari pengalaman bapak yang pernah mendirikan sekolah tapi pada tahun kelima itu berhenti. Apa yang saya di dirikan itu pendidikan hanya punya kekuatan atau kelebihan,” imbuhnya.

Dalam pengelolaan sekolah yang didirikannya, dia menyerahkan ke orang yang dipercaya menjadi leader untuk mengembangkan dan itu diberikan secara penuh tanpa ada intervensi.

Kemudian, merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) atau pengajar, itu tidak asal merekrut pengajar tapi dengan seleksi yang ketat, jadi hanya pengajar yang berkualitas saja yang bisa membuat anak didiknya itu berkualitas juga.

Tata organisasi di dalamnya harus baik dan harus ada keseimbangan anggaran, itu cukup penting jika ingin maju. “Sekolah itu kalau dikelola dengan baik maka hasilnya akan bagus dan optimal. Yang saya tekankan ke mereka itu kualitas, karena kita itu bertanggungjawab kepada stakeholder, orangtua, mahasiswa atau masyarakat,” ungkapnya.

Dirinya, tidak mempermasalahkan dengan banyaknya berdiri lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan, sekolah yang di dirikan itu mampu bersaing, karena basic pendidikan yang itu dibutuhkan di duniaa kerja jadi begitu lulus kerja dan program studinya itu yang diminati.

Bahkan mahasiswa tidak hanya kuliah saja tapi juga ada training mahasiswa belajar kepemimpinan, berlatih menulis atau berwirausaha.

“Kita punya keunggulan dan mampu bersaing. Apalagi saat tengah di proses perizinan ke Dikti untuk menjadi universitas, sekarang 30 persen sudah disetujui dan terus dilakukan perbaikan,” tandasnya. 

1
2
BAGIKAN