JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen SMK Sakti Gemolong Yakin Penyebab Upaya Bunuh Diri Bukan Bahasa Inggris

SMK Sakti Gemolong Yakin Penyebab Upaya Bunuh Diri Bukan Bahasa Inggris

552
BAGIKAN
OLAH TKP- Kapolsek Gemolong, AKP Supadi bersama tim saat melakukan olah TKP di lokasi jatuhnya siswa yang nekat bunuh diri dengan terjun dari lantai tiga SMK Sakti Gemolong, Selasa (9/5). Foto : Wardoyo

SRAGEN—Wakhid Sadikin (18), siswa SMK Sakti Gemolong yang melakukan percobaan bunuh diri  dengan terjun dari lantai tiga sekolahnya, dikabarkan sudah berangsur membaik.

Sementara, pihak sekolah membantah bahwa mata pelajaran bahasa Inggris menjadi pemicu depresi dan aksi nekat yang dilakukan korban.

Kepala SMK Sakti Gemolong Suyono mengungkapkan, kondisi siswa asal Dukuh Jetak, Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang itu sudah mulai membaik. Namun yang bersangkutan masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Moewardi Solo.

Menurut rencana, siswa kelas XI itu bakal menjalani operasi pada tulang kakinya yang patah akibat terbentur dari ketinggian 7,7 meter tersebut.

“Kondisinya sudah mulai membaik tapi masih dirawat di RS Moewardi. Ini baru akan dioperasi kakinya karena patah akibat kejadian itu,” ungkap Suyono, Minggu (14/5/2017).

Ia menguraikan, insiden menggemparkan itu memang baru pertama kali terjadi dalam sejarah berdirinya SMK Sakti.

Pihak sekolah menampik dianggap kecolongan lantaran selama ini pagar pembatas di lantai dua dan tiga, sebenarnya sudah didesain dalam standar yang diyakini aman.

Pagar pembatas itu dibuat dengan ketinggian 1 meter lebih atau melebihi pinggang orang dewasa atau siswa. Ia justru melihat insiden itu lebih dikarenakan adanya faktor kesengajaan dari yang bersangkutan.

Ia juga menegaskan indikasi aksi terjun bunuh diri dipicu depresi akibat kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Inggris, hal itu tidak benar.

Sebab, selama ini yang bersangkutan juga dikenal rajin dan cukup berprestasi. Kemudian, sanksi kebanyakan PR oleh guru bahasa Inggris yang dituliskan di buku diary korban, juga tak benar.

“Nyatanya wong siswa liyane juga nggak ada yang sambat (mengeluh). Kalau menurut kami mungkin ada masalah di rumah atau apa. Yang jelas kalau penyebabnya bahasa Inggris, kok rasanya enggaklah,” tegasnya.

Suyono menambahkan, Wakhid selama ini juga aktif sebagai anggota Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah. Namun yang bersangkutan memang cenderung pendiam.

Untuk mengantisipasi adanya siswa-siswa yang bermasalah dan insiden terulang, pihaknya akan lebih mengintensifkan peran guru BP atau BK untuk memantau dan memberikan pendampingan kepada para siswa.

Wardoyo