JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Solo Festival Gamelan 2017, Menyemai Pesan Kerukunan Lewat Karya Panggung

Solo Festival Gamelan 2017, Menyemai Pesan Kerukunan Lewat Karya Panggung

75
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
FESTIVAL GAMELAN 2017- Warga menyaksikan Festival Gamelan 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Sabtu (6/5).

Wonogiri dalane ngidul, ono gamelan ayo podo ngumpul dinyanyikan secara apik oleh suara emas anak-anak Solo dalam Solo Festival Gamelan 2017, Sabtu (6/5/2017) malam.

Dengan tema besar Gangsa Ngerukunke Bangsa, puluhan repertoar terapresiasi secara apik dalam gelaran tersebut. Modern, syahdu dan sarat makna mewakili nuansa Solo Festival Gamelan 2017.

Pergelaran yang dimulai pukul 20.00 WIB malam itu menghadirkan dua komposer Gamelan ternama yakni Dwi Priyo Sumarto dan Lukas Danasmoro.

Dwi Priyo Sumanto  menampilkan permainan gamelan yang dikolaborasikan dengan alat musik lainnya seperti biola, terompet hingga kendang.

Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
FESTIVAL GAMELAN 2017- Warga menyaksikan Festival Gamelan 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Sabtu (6/5).

Ada  tiga jenis tema pertunjukan gamelan yang dibawakannya di antaranya Singkrak Cangit, Akulah Indonesia dan Manunggal.

Selain itu Lukas, sukses memainkan tiga jenis gamelan yang berbeda di antaranya gamelan Jawa, gamelan Bali dan Ginang Sekaten. Repertoar yang dibawakan yakni Nyanyian Negeri, Sangkakala, dan Indonesia Jaya. Ketiganya, dipadupadankan dengan pertunjukan tari-tari tradisional.

“Sehingga penampilan kami semua ini, untuk merealisasikan tema besar Gangsa Ngerukunke Bangsa, di mana pesan mengenai kerukunan masyarakat Indonesia berusaha disampaikan lewat karya yakni gamelan,” katanya.

Sebelumnya, acara dibuka dari Kecamatan Laweyan dengan membawakan dua gendhing yakni Ayun-Ayun serta 3wmp. Dengan komponen gamelan lengkap yang saling harmoni bertabuh menjadi pemikat bagi penonton yang hadir.

Apalagi saat gendhing 3wmp dibawakan, tak sedikit penonton yang mayoritas adalah orang muda menyanyikan lirih lirik dari lagu ini 3wmp.

“Melalui gamelan memang diharapkan potensi rakyat Solo dapat digali dan terus dikembangkan. Dan tentu saja ikut serta dalam pelestarian budaya Indonesia,” jelas Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo dalam sambutan pembukaan Solo Festival Gamelan 2017.

Usai Kecamatan Laweyan, penampilan selanjutnya dari Kecamatan Jebres. Dua gendhing dipersiapkan yakni Ibu Pertiwi dan Berseri.

Festival Gamelan 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Sabtu (6/5). Foto : Insan Dipo Ferdias

Berseri… berseri… bersih sehat rapi indah, salah satu potongan lirik lagi Berseri yang dibawakan dengan merdu oleh penyanyinya.

“Kami memilih lagu tersebut sebagai inovasi dan informasi bahwasanya gamelan dapat dimasukkan dalam zaman modern, sehingga budaya itu tidak luntur,” jelas Pengayom Paguyuban Gamelan Kecamatan Jebres, Tuladi.

Kemudian Kecamatan Banjarsari. Terdapat hal unik dalam penampilannya yakni membawakan gendhing Nuswantara, Kopi Dondong, dan ediluhung.

Uniknya, terdapat sebuah alat musik yakni siter elektrik buah kreasi dari Pariyanto pemenang Kreativitas Inovatif (Krenova) 2016.

Setelah Kecamatan Banjarsari tampil penonton semakin di bawa ke arah penampilan gamelan inovatif. Kemudian penampilan dilanjutkan dengan penampilan dari anak-anak Kecamatan Serengan.

Hampir semua pemain gamelan adalah anak-anak. Decak kagum, tepuk tangan meriah serta ungkapan-ungkapan ketertarikan penonton semakin membuat meriah suasana.

“Tuku kupat neng Ngarsopuro menawi lepat nyuwun ngapura,” nyanyi mereka dalam lirik penutup dan mengundang tepuk tangan meriah dari penonton.

Dan penampilan Kecamatan Pasar Kliwon di mana membawakan dua gendhing yakni Ladrang Sriwidodo serta Sidomulyo. Kesan klasik dan rapi menjadikan penonton menyimak.

Garudea Prabawati