JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Tersangka Baru Kasus Konvoi Brutal Klaten Diduga Aniaya Pelajar SMAN Karangnongko

Tersangka Baru Kasus Konvoi Brutal Klaten Diduga Aniaya Pelajar SMAN Karangnongko

1651
JOGLOSEMAR | Dani Prima
KUNJUNGAN MENDIKBUD – Mendikbud Muhadjir Effendy saat melihat beberapa siswa SMA Negeri 1 Klaten yang menjadi korban kebrutalan gerombolan pelajar saat kunjungan ke sekolah tersebut, Kamis (4/5/2017).

KLATEN – Polres Klaten kembali menetapkan lima peserta konvoi brutal, Selasa (2/5/2017) lalu, sebagai tersangka. Bukan saja membawa senjata tajam, satu diantaranya diduga menganiaya seorang pelajar SMAN 1 Karangnongko.

Para tersangka tersebut adalah WI (29) warga Prambanan, Sleman, AB (18) warga Prambanan Klaten, IP (17) warga Gantiwarno Klaten, AH (18) warga Condong Catur Sleman dan AS (20) warga Piyungan Bantul.

Penetapan kelimanya membuat jumlah tersangka konvoi brutal menjadi sepuluh orang. Sebelumnya, sudah ada lima peserta konvoi lain yang juga ditetapkan sebagai tersangka, mulai RS (23) warga Jogonalan, WF (18) warga Kecamatan Prambanan, Klaten, GH (17) warga Banguntapan, Bantul, RW (18) dan R (17) warga Kecamatan Prambanan, Sleman.

“Delapan tersangka kita tahan, dua tidak ditahan karena masih dibawah umur. Kita juga masih terus mengembangkan penyidikan. Sehingga tidak menutup kemungkinan untuk tersangka baru lagi,” katanya usai rapat koordinasi (rakor) bersama Muspida dan Polres Sleman untuk menindaklanjuti kejadian konvoi lulusan yang berujung brutal di Aula Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Jumat (12/5/2017).

Adanya kasus tersebut membuat Polres Klaten berencana membentuk Satgas Anti Tawuran. “Saat kenakalan yang terjadi sangat luar biasa. Bagaimana mungkin pelajar pergi ke sekolah sambil membawa senjata tajam seperti pisau hingga ikat pinggang yang ujungnya dikaitkan gir sepeda motor. Ini sudah bukan kenakalan pelajar lagi,” jelas Darwis.

Dengan kondisi tersebut, sehingga dirasa perlu adanya Satgas Anti Tawuran. Dalam pelaksanaannya akan bukan hanya digawangi oleh kepolisian namun juga unsur TNI dan Satpol PP.

“Untuk itu, kami meminta Pemkab Klaten sebagai pemangku wilayah untuk memberikan dukungan,” imbuh Darwis.

Sementara itu, pembentukan Satgas Anti Tawuran didukung oleh Wakapolres Sleman, Kompol Heru Muslimin yang hadir dalam rakor tersebut.

Menurutnya kejadian 2 Mei lalu menjadi pembelajaran yang berarti agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Dani Prima

BAGIKAN