Tradisi Sadranan di Ampel, Nguri-uri Garis Keturunan Ki Wongso Diwiryo

Tradisi Sadranan di Ampel, Nguri-uri Garis Keturunan Ki Wongso Diwiryo

43
Sadranan di Sidomulyo digelar di salah satu keluarga tertua yang babat alas di desa tersebut. Yakni trah atau garis keturunan Ki Wongso Diwiryo yang merupakan lurah pertama Sidomulyo. Foto : Ario Bhawono

Menjelang bulan Ramadan atau Ruwah penanggalan Jawa, lekat bagi masyarakat Boyolali menyelenggarakan tradisi sadranan atau ziarah kubur.

Berbeda dengan tradisi sadranan di sejumlah tempat semisal di Cepogo, Musuk, dan Selo, sadranan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel termasuk cukup unik dan langka, Sabtu (13/5/2017).

Sadranan di Sidomulyo digelar di salah satu keluarga tertua yang babat alas di desa tersebut. Yakni trah atau garis keturunan Ki Wongso Diwiryo yang merupakan lurah pertama Sidomulyo.

Setiap kali sadranan yang dilangsungkan di areal pemakaman trah di Siti Maloyo, Dukuh Gumuk, Sidomulyo itu, jumlah anggota keluarga yang datang mencapai ratusan.

Jumlah tersebut saat ini cukup langka mengingat tak banyak trah yang masih terus terpelihara komunikasi kekerabatannya. “Biasanya yang hadir saat sadranan sekitar 700-an anggota keluarga,” ungkap Kades Sidomulyo, Muh Sawali.

Baca Juga :  Tes Urine Secara Acak, Jajaran Kodim 0724 Boyolali Bebas Narkoba

Jumlah anggota trah Ki Wongso Diwiryo ini, menurut Sawali, cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah. Sawali sendiri mengaku merupakan turunan keenam dari Ki Wongso Diwiryo tersebut.

Dijelaskannya, Desa Sidomulyo cukup unik lantaran merupakan desa yang dahulunya terbentuk dari dua wilayah, yakni Desa Breduk dan Desa Beji.

Dua wilayah tersebut yang kemudian oleh Ki Wongso Diwiryo disatukan menjadi satu desa, yakni Sidomulyo di awal abad 19 silam.

Sebagai pemakaman trah, posisi makam Ki Wongso Diwiryo berada di tempat yang paling tinggi, kemudian diurutkan sesuai tingkatan generasi di bawahnya.

Menurut ahli waris lainnya, Ujo Sutrisno, areal pemakaman tersebut dibangun saat zaman kolonial Belanda silam. Ki Wongso Diwiryo yang merupakan lurah pertama, diberikan hak khusus oleh pemerintahan saat itu untuk membuat areal pemakaman.

Baca Juga :  Bus Ugal-ugalan Tabrak Empat Mobil di Jembatan Timbang Banyudono

Ki Wongso Diwiryo pun bertapa terlebih dahulu selama 40 hari guna memilih lokasi yang tepat. “Kemudian dipilihlah lokasi ini,” terang Ujo.

Taryono, ahli waris lainnya, menambahkan cikal bakal leluhurnya tersebut masih keturunan dari Sultan Agung Mataram, yakni keturunan dari Amangkurat III. Terlepas dari itu, menurutnya, tradisi ini sangat positif untuk terus menjalin silaturahmi antarkeluarga.

Keunikan lainnya yakni tidak hanya anggota keluarga yang beragama Islam yang didoakan dalam sadranan tersebut. Melainkan anggota keluarga yang beragama lain juga turut didoakan.

Sedangkan jalannya sadranan pun seperti laiknya tradisi yang sama di tempat lain. Rangkaian doa-doa zikir dan tahlil pun dilantunkan.

Usai doa, ratusan anggota keluarga kemudian menyantap berbagai makanan yang sudah dibawa sebelumnya.

 Ario Bhawono

BAGIKAN