JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen 3 Ekor Sapi Jenius di Sragen Ini Kirim Isyarat Misteri Kematian Mbah...

3 Ekor Sapi Jenius di Sragen Ini Kirim Isyarat Misteri Kematian Mbah Sastro

5520
BAGIKAN
Ilustrasi sapi

SRAGEN– Musibah tragis yang menimpa Sastro Sukardi (86) penggembala asal Dukuh Tlumun RT 10, Desa Galeh, Tangen yang tewas terbakar di ladang tebu Rabu (21/6/2017) petang, memang menghadirkan duka bagi keluarganya. Namun meninggalnya kakek pekerja keras itu ternyata juga menyisakan cerita menarik.

Entah kebetulan atau memang karena hewannya yang cerdas, kematian Mbah Sastro ternyata terungkap berkat ketiga ekor sapi yang digembalakannya. Ya, kepergian korban pertama kali diketahui dari isyarat yang ditunjukkan ketiga ekor sapi miliknya.

Sesaat setelah korban terbakar, sapi-sapi itu mendadak diketahui pulang sendiri ke rumah. Padahal jarak rumah dengan ladang tebu tempat sapi digembala lumayan jauh.

“Iya awalnya tahu ya dari sapi-sapi itu. Biasanya habis dingon (digembalakan), pulangnya bareng sama Mbah Sastro. Tapi sore kemarin kok tiba-tiba sapinya pada pulang bertiga sendiri. Akhirnya anaknya curiga, kok bapaknya nggak ada. Dicarilah ke ladang dan ternyata sudah meninggal terbakar di bekas ladang tebunya, ” ujar Wahono, tetangga korban.

Seperti diberitakan, sebelum ditemukan tewas, Mbah Sastro sempat pamit menggembala tiga ekor sapinya sekitar pukul 15.00 WIB di ladang. Namun tak seperti hari-hari biasanya, hari itu Mbah Sastro tak kunjung pulang hingga petang hari. Hanya tiga sapinya yang pulang sendirian ke rumah.

Kejadian agak ganjil itu juga dibenarkan Kapolsek Tangen, AKP Sartu. Ia menuturkan kematian Mbah Sastro memang diketahui dari isyarat tiga ekor sapinya yang pulang sendirian ke rumah. Dari situlah, didapat petunjuk untuk dilakukab pencarian oleh kerabat ke lokasi penggembalaan.

Setelah ditelusuri, kakek malang itu ditemukan sekitar pukul 17.30 WIB dalam kondisi sudah meninggal di ladang tebu. Dari hasil olah TKP, diketahui korban murni meninggal akibat musibah saat membakar daun tebu kering di ladangnya.

“Awalnya korban ini menggembala sapi. Tapi hingga sore kok nggak pulang-pulang dan sapinya malah pulang sendiri. Kebetulan korban punya riwayat penglihatannya sudah mulai berkurang. Karena hari sudah gelap dan kondisi fisiknya juga sudah tua, mungkin dia tidak sigap saat api membesar, ” terangnya.

Karena hasil visum tidak ada tanda penganiayaan dan kerabat sudah ikhlas, jasad korban langsung disemayankan untuk dimakamkan kemarin malam. Wardoyo