Lebih Dekat dengan Hj E Trihayutiningsih, Dedikasikan Diri untuk Dakwah

Lebih Dekat dengan Hj E Trihayutiningsih, Dedikasikan Diri untuk Dakwah

17
Hj E Trihayutiningsih, Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta. Foto : Dok

Semangat berorganisasi telah mendarah daging dalam dirinya sejak belia. Usia senja tak menjadi halangan untuk mengemban amanah umat.

Bahkan, di usia senja  sosok ini masih energik mengurus lima yayasan sekaligus. Itulah yang tergambar dari perjuangan Hj E Trihayutiningsih, Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta.

Perempuan yang  disapa Bu Titin Fanani ini mengungkapkan, dedikasi dirinya pada berbagai organisasi hingga terlibat dalam dakwah bukan kebetulan.

Darah santri mengalir dari kakeknya yang merupakan naib di jalan Belanda. Perkenalannya dengan aktivitas sosial masyarakat dan organisasi juga dikenalnya sejak kecil.

“Orangtua saya mengajarkan organisasi sejak kecil. Kalau bertemu bupati atau rapat-rapat saya pasti diajak,” ujar istri Guru besar UNS Prof Moh Fanani itu.

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1965 menjadi bencana bagi keluarganya. Keluarga Titin tercerai berai dan harus mengungsi.

Ia terpisah asuhan dengan dua kakaknya. Karena, anak bungsu Titin tetap diasuh oleh ibunya, sedang dua kakaknya diasuh oleh pamannya.

Hj E Trihayutiningsih, Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta. Foto : Dok

Hal ini dirasa membawa dampak bagi pengetahuan agama. Titin merasa pendidikan agamanya sangat kurang. Pasalnya, sejak kecil hingga dewasa ia bersekolah di sekolah umum.

Kesadaran untuk kembali pada jati dirinya yang lahir dari kalangan santri muncul saat duduk di bangku sekolah menengah.

Ia mulai berani menyuarakannya saat mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan mendesak pihak kampus untuk membuat musola.

“Setelah dewasa saya dan kakak-kakak saya sadar bahwa kami lahir dari kaum santri dan harus melanjutkan estafet dakwah,” ujarnya.

Titin juga terlibat dalam kepengurusan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Surakarta  yang diikuti 40 organisasi wanita di Solo, Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) hingga dinobatkan sebagai ibu teladan.

Titin mengaku tidak pernah mendaftar sebagai anggota organisasi. Dedikasi dan loyalitasnya membuat organisasi melamar dirinya untuk menjadi pengurus.

“Saya tidak pernah mendaftar, tapi dilamar organisasi. Patut disyukuri, dari organisasi saya mendapat banyak pengalaman terutama manajerial dan leadership. Ini semua juga tidak lepas dari dorongan suami saya, dia ridha saya aktif dalam berbagai organisasi,” imbuhnya.

Loyalitas dan totalitasnya dalam berorganisasi mengantarkan Titin terlibat dalam roda dakwah. Selama 20 tahun ia menjadi pengurus Badan Koordinasi Taman Pendidikan Quran (TPQ) Jawa Tengah hingga mendapat amanah sebagai wakil ketua.

Hj E Trihayutiningsih, Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta. Foto : Dok

Aktivitas dakwah dalam Majelis Ulama Indonesia selama tiga periode. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga.

Aktif berorganisasi membuat Titin peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Bahkan, ia mengaku prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di matanya, adab dan akhlak elite politik telah bobrok.

Di sisi lain, keluarga yang menjadi lingkungan pendidikan pertama tidak didasari nilai-nilai agama. Akibatnya, anak tumbuh tanpa perhatian orangtua dan terjerumus dalam pergaulan bebas.

Pernah terbesit dalam pikiran Titin untuk terjun ke gelanggang politik sebagai wakil rakyat. Ia mengaku sempat dilamar beberapa Partai Politik (Parpol).

Sempat juga terbesit dalam benaknya, jika ikhtiar menjadi wakil dapat menjawab kebutuhan umat. Namun itikad itu pupus, ia tak melihat adanya adab yang baik dalam percaturan politik.

“Waktu Muda saya ingin menjadi anggota dewan, betul-betul saya ingin mengubah Solo menjadi lebih baik. Sampai sekarang banyak yang melamar untuk menjadi anggota dewan tapi belakangan saya lihat politik tanpa adab, akhirnya saya mantap tidak berjuang di ranah  Parpol,” ujarnya

Saat ini, ia mengaku mantap berjuang di medan dakwah. Kini, selain menjadi pengurus MUI Kota Surakarta Titin juga aktif menjadi pengurus sejumlah yayasan, Pondok Pesantren Darul Quran di Colomadu termasuk salah satu yayasan yang menjadi tempatnya dalam mendedikasikan diri.

Arief Setiyanto

BAGIKAN