JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Pensiunan Polri asal Sukoharjo Ini Dirikan TK dan Paud Gratis, Seperti Ini...

Pensiunan Polri asal Sukoharjo Ini Dirikan TK dan Paud Gratis, Seperti Ini Ceritanya

48
BAGIKAN
TK ZIDNI ILMA – Suasana TK dan PAUD Zidni Ilma yang dikelola pensiunan polisi, Saeno beserta keluarga, Jumat (2/6). Foto : Dynda Wahyu Wardhani

Pensiunan Polri berpangkat Ipda, Saeno (60) memantapkan hatinya untuk mengabdi kepada masyarakat dengan mendirikan sebuah TK dan PAUD gratis bagi warga tidak mampu bernama Zidni Ilma

Ditemui di rumahnya, di Jl Flores No.5 Dukuh Sukoharjo Rt 1 Rw 2, Saeno yang saat itu baru saja pulang dari Masjid Jami’ Sukoharjo menyambut ramah.

Ditemani sang istri Sri Pujianti (56), Saeno yang saat itu masih mengenakan pakaian muslim lengkap pun menceritakan awal mula TK berdiri.

“Jadi dulu awalnya mendirikan playgroup tahun 2008 di garasi rumah. Lama kelamaan muridnya malah semakin banyak. Terus ngontrak rumah. Beberapa waktu kemudian saya membeli tanah samping rumah untuk didirikan TK dan PAUD,” ujarnya.

Selain warga tidak mampu, TK dan PAUD tersebut juga menerima anak difabel. Tidak hanya sekadar mendidik mereka, para anak difabel tersebut juga didampingi untuk melakukan terapi.

Saeno mengaku dana yang dikucurkan untuk pendidikan anak-anak tersebut tidak hanya berasal dari kantong pribadinya. Namun banyak dermawan yang juga tertarik ikut andil membiayai kebutuhan pendidikan 40 siswanya.

“Ada tiga anak difabel yang kami terima. Untuk murid yang berasal dari keluarga mampu pun harus tetap membayar SPP. Karena niat kami hanya meringankan mereka yang memang harus dibantu,” kata dia.

Hal senada pun dikatakan anak Saeno, Desi Lisnayanti (36) yang bertanggung jawab sebagai pengelola. Malahan, Desi merencanakan tahun depan, bangunan sekolah akan ditambah dengan MI Inklusi.

TK ZIDNI ILMA – Suasana TK dan PAUD Zidni Ilma yang dikelola pensiunan polisi, Saeno beserta keluarga, Jumat (2/6). Foto : Dynda Wahyu Wardhani

Inisiasi tersebut tercetus karena minimnya Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mengajarkan sisi agama atau hafalan kepada muridnya.

“Kita bisa melihat sebenarnya banyak anak difabel yang punya kelebihan dalam menghafal. Nantinya saya bermimpi MI Inklusi nanti akan mencetak para penghafal Alquran yang tidak kalah dengan anak normal lainnya,” kata dia.

Tak berhenti di situ saja, keluarga ini juga rutin membagikan sekitar 100 nasi bungkus setiap Jumat pagi. Pun sebulan sekali digelar pengajian rutin di rumah.

Tidak ada yang istimewa atas apa yang dilakukan Saeno dan keluarga. Hal tersebut hanya semata ingin berbagi rejeki dan merasakan kebahagiaan yang hakiki di dalam hati.

“Saya bangun pagi sendiri untuk masak. Niat saya yang penting anak sekolah itu bisa sarapan. Rasanya itu nyaman sekali dan nggak bisa diungkapkan rasa bahagianya ketika diberi kesempatan untuk berbagi seperti ini,” ungkap istri Saeno, Sri Pujianti.

Dynda Wahyu Wardhani