JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Perjuangan Tukang Becak di Terminal Tirtonadi Bikin Trenyuh, Pagi Jadi Buruh, Malam...

Perjuangan Tukang Becak di Terminal Tirtonadi Bikin Trenyuh, Pagi Jadi Buruh, Malam Mengayuh

95
BAGIKAN
Joglosemar | Sartia Utama
MENGAIS REZEKI–Kasimin (54), penarik becak yang sedang menunggu calon penumpang di jalan Letjen S Parman, Gilingan, Banjarsari, Jumat (23/6) malam.

Lebaran di depan mata. Hari kemenangan ini pun ditunggu banyak pihak untuk dapat merasakan sedikit nikmat berbagi dari sesamanya.

Namun, ironisnya para tukang becak ini justru harus bekerja keras demi bisa membahagiakan keluarganya. 

Momen menjelang perayaan Idul Fitri identik dengan yang namanya Tunjangan Hari Raya (THR).

Hampir semua kalangan baik dari unsur pegawai seperti Pegawai  Negeri Sipil (PNS), pegawai swasta hingga buruh pasti menyambut gembira rezeki berupa THR dari perusahaan atau pemerintah itu.

Meski tidak mendapat THR, namun para pedagang berbagai kebutuhan masyarakat pasti kecipratan kebahagiaan, karena menjelang Lebaran, dipastikan ada peningkatan pendapatan dari aneka barang yang mereka jual pada konsumen.

Kebahagiaan sederhana ini ternyata sangat dinanti para tukang becak di Kota Solo. Hanya saja, walau mereka tidak masuk dalam kalangan yang mendapatkan THR, namun semangat kerja mereka tak kendur, demi mewujudkan tambahan penghasilan yang bisa dikais saat-saat seperti ini. Tentunya demi keluarga mereka, agar bisa berhari raya seperti yang lainnya.

Setidaknya hal inilah yang terpancar dari sosok pengayuh becak satu ini, ketika Joglosemar menyambanginya, Jumat (23/6) sekitar pukul 22.30 WIB.

Namanya Kasimin (54), tukang becak yang biasa mangkal di kawasan sekitar Terminal Tirtonadi ini masih tampak semangat memperbaiki becaknya.

“Ada kerusakan pada rantai saya Mas. Ini sedang saya perbaiki,” ucap Kasimin, warga Dukuh Gondang Legi, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ini.

Bapak 6 anak yang mengaku sudah lebih dari 15 tahun berprofesi sebagai tukang becak ini menuturkan terpaksa memperbaiki rantai becaknya pada malam hari agar tetap bisa melayani penumpang.

Ia yakin untuk terus melayani penumpang, meski momen jelang Lebaran tahun ini tidak seperti 5 tahun sebelumnya.

Ya, beberapa tahun lalu, ia dapat berlega hati ketika mendapatkan rezeki yang melimpah dari mengantarkan para penumpang ke tujuan masing-masing. Bahkan penghasilannya bisa naik hingga lima kali lipat untuk 1 hari.

“Dulu (lima tahun lalu), penghasilan saya bisa mencapai 250.000 per harinya pada setiap H-5 Lebaran. Namun, saat ini jumlah penumpang becak sudah jauh berkurang,” terangnya terlihat sedih.

Melihat penumpang yang tak dapat diandalkan, Kasimin pun akhirnya menyambi pekerjaan yang lain. Ia memutuskan  mengayuh becak dilakukannya pada malam hari, sedangkan saat siang hari, ia memilih menjadi buruh borong bongkar material, dan terkadang menjadi tukang pijit.

Untuk penghasilannya, ia mengaku dalam dua pekan ini, mendapat penghasilan rata-rata Rp 75.000. Sedangkan pada siang hari, sebagai buruh borong bongkar material, Kasimin mengaku mendapat penghasilan hingga Rp100.000 setiap harinya.

“Saya memilih mengayuh becak saat malam hari. Pada siang hari saya beralih profesi sebagai kuli borong bongkar material. Terkadang juga tukang pijat,” terang dia.

Senada disampaikan pengayuh becak lain di Kawasan Pasar Legi, Suyoto. Menurut dia, pada momen jelang Lebaran tahun ini penghasilannya tidak mengalami peningkatan.

“Ada peningkatan penghasilan, namun sedikit. Pada hari biasa setiap hari penghasilan saya rata-rata Rp 60.000-Rp 80.000. Dalam dua pekan terakhir, rata-rata penghasilan saya paling besar Rp 100.000 setiap harinya,” ungkap Suyoto.

Satria Utama