JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Toilet Portable di Solo Belum Ideal, Tampak Bersih Tapi Bau dan Air...

Toilet Portable di Solo Belum Ideal, Tampak Bersih Tapi Bau dan Air Sering Macet

26
BAGIKAN
Joglosemar/Yuhan Perdana
CEK PENERANGAN–Petugas memeriksa lampu penerangan toilet portable di kawasan Manahan, Selasa (19/1). Pengecekan lampu penerangan tersebut ditujukan agar toilet umum tersebut tidak digunakan untuk hal diluar fungsinya.

Bau pesing tercium saat mendekati toilet portabel di villa park Banjarsari. Sedikit masuk ke dalam, wattage Tampa bertengger di finding toilet portable.

Meski mungil, toilet portable  itu memiliki dua ‘bilik’. Satu ‘bilik’ untuk buang air besar dan ‘bilik’ satunya untuk buang air kecil.

Meskipun sekilas tampak bersih, pengguna fasilitas tersebut mengeluhkan bau tak sedap dari toilet tersebut. Sudah begitu, air bersih di toilet itu juga tak mengalir.

“Kenampakannya bersih, tapi baunya itu lho, pesing banget. Airnya macet lagi, untung tadi masih ada sisa air,” ujar Aswin Yebelanji (22) mahasiswa asal Bekasi, Jumat (2/6/2017).

Aswin berharap perawatan toilet umum lebih ditingkatkan. Menurutnya, sebisa mungkin toilet umum harus cukup air dan terjaga kebersihannya.  “Toilet itu kelihatannya sepele tapi penting lho, Mas. Paling gak airnya disuplai terus, bersih wangi mestinya,” imbuhnya.

Hal yang sama juga disampaikan Marlina (40) pelancong asal Yogyakarta ini mengaku kesulitan mencari toilet saat menyusuri city walk Jalan Slamet Riyadi.

Katanya, setengah jam ia mencari dan menahan pipis. Ironisnya saat ketemu toilet di jalan dekat Plasa Sriwedari, pintu toilet masih terkunci.

“Cari toilet umum susah, pas ketemu eh toiletnya digembok. Tadi saya nyari-nyari akhirnya dapat di dalam Sriwedari,” ujarnya, Rabu (31/5/2017).

Marlina berharap pemerintah Kota Surakarta menambah jumlah toilet umum. Selain harus bersih dan harum ia berharap ada papan petunjuk, sehingga toilet umum mudah ditemukan.

“Solo ini kan sering dikunjungi wisatawan. Kalau bisa ada papan petunjuk biar wisatawan atau masyarakat nggak bingung kalau nyari toilet,” katanya.

Joglosemar/Yuhan Perdana
CEK PENERANGAN–Petugas memeriksa lampu penerangan toilet portable di kawasan Manahan, Selasa (19/1). Pengecekan lampu penerangan tersebut ditujukan agar toilet umum tersebut tidak digunakan untuk hal diluar fungsinya.

Lain halnya dengan Galih (23). Pemuda asal Polokarto Sukoharjo. Ia merasa puas dengan tingkat kebersihan toilet yang disediakan Pemkot Surakarta. Selain lumayan bersih, air yang tersedia juga melimpah.

“Lumayan bersih, airnya juga banyak. Kalau Pesing ya wajar, namanya juga toilet,” katanya.

Namun demikian ia juga berharap jumlah toilet ditambah. Terlebih kawasan Mahanan saat ini ramai kunjungan. Terutama pada akhir pekan.

“Kalau bisa jumlahnya ditambah. Apalagi sering buat nongkrong anak muda, kalau susah dijangkau ya jangan salahkan nanti pada pipis sembarangan,” katanya.

Sementara itu,  Direktur Eksekutif Lembaga Gita Pertiwi (LGP), Rossana Dewi R mengatakan, toilet merupakan salah satu kebutuhan dasar dan menjadi kebutuhan publik yang harus dipenuhi pemerintah. Di samping itu, proporsi toilet harus disesuaikan dengan populasi penduduk.

Tak hanya itu, desain toilet harus berperspektif gender dan ramah penyandang disabilitas. Bahkan masyarakat memiliki hak untuk turut menentukan desain toilet.

“Jangan yang penting ada, itu paradigma zaman dulu. Desain toilet harus memperhatikan kelompok masyarakat, tentu berbeda antara desain toilet untuk laki-laki, perempuan, anak-anak dan yang berkebutuhan khusus. Kalau kita cermati di solo toilet umum yang ada belum ideal,” ujarnya.

Dewi berharap hal ini menjadi perhatian besar pemerintah Kota Surakarta. Pasalnya, pemenuhan toilet yang ideal merupakan bentuk dari upaya menekan, bahkan mencegah aktivitas buang air sembarangan.

Tentu akan ironis jika hal ini tidak dilaksanakan dengan baik, sebab Kota Solo pernah menjadi tuan rumah World Toilet Summit ke-13 tahun 2013 lalu.

“Harapan kami, pemenuhan kebutuhan ini jangan hanya musiman. Sebab yang dibentuk bukan hanya fisik bangunan toilet, namun juga kesadaran masyarakat,” tandasnya.

Arief Setiyanto