JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri Wonogiri Lebih Pas Dengan Sistem 6 Hari Sekolah

Wonogiri Lebih Pas Dengan Sistem 6 Hari Sekolah

151
BAGIKAN
Joglosemar | Aris Arianto
KAJIAN MENDALAM—Bupati Joko Sutopo memberikan pengarahan kepada siswa SMK Pangudi Luhur Giriwoyo, beberapa

WONOGIRI-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri menganggap masih perlu dilakukan serangkaian kajian mendalam terkait rencana penerapan lima hari sekolah. Sementara pihak legislator menganggap Wonogiri lebih tepat menerapkan pola 6 hari sekolah.

Bupati Joko Sutopo mengatakan kebijakan 5 hari kerja yang bakal diterapkan pemerintah dinilai perlu kajian yang lebih mendalam jika program pendidikan tersebut diberlakukan di daerah Wonogiri.

Bupati menuturkan, daerahnya tidak bisa disamakan dengan kota-kota besar. Sehingga wacana 5 hari sekolah idealnya diselenggarakan secara bertahap.

“Bukan soal lima atau enam harinya tapi yang perlu dikaji menurut saya efektifitasnya sejauh mana program itu,” tandas Bupati Wonogiri saat ditemui usai memimpin Rakor bersama kepala OPD di Ruang Kahyangan komplek Setda Wonogiri, Senin (12/6/2017).

Disebutkan Bupati, Pemkab akan segera mengumpulkan pihak terkait termasuk para pakar pendidikan maupun pengusaha jasa angkutan di daerahnya untuk membahas wacana lima hari sekolah. Sebagai kepala daerah, kata Joko, pihaknya akan mendengarkan sekaligus melaksanakan apa yang menjadi keputusan bersama.

Sementara itu, Ketua DPRD Wonogiri Setyo Sukarno mengisyaratkan peserta didik di Kabupaten Wonogiri cenderung tepat jika berlangsung seperti biasa yakni masuk 6 hari. Tapi, ujar Setyo, jika memang pemerintah pusat khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama DPR tetap melakukan lima hari sekolah pihaknya pun siap mendukungnya.

“Yang jelas perlu sosialisasi dan observasi yang matang agar program ini bisa meningkatkan mutu pendidikan serta SDM lulusan,” tandas ketua dewan.

Salah satu orang tua siswa, Hervina mengatakan dengan akan diberlakukannya 5 hari sekolah, otomatis jam pelajaran bertambah dan siswa pulang ketika sore hari. Jika kebijakan menambah durasi di ruang kelas itu diterapkan maka hal itu akan menambah uang yang harus dikeluarkan.

“Minimal uang untuk makan anak pasti bertambah,” kata Hervina.

Orang tua lainnya, Muslihah menyebutkan, kebijakan memaksakan perubahan jam belajar siswa sekolah akan memunculkan kegaduhan baru. Khusus Wonogiri, yang paling kentara adalah persoalan transportasi. Ketika siswa pulang sore, susah mendapatkan angkutan untuk pulang.

“Kalau sore pasti susah mendapatkan angkutan pulang, hari biasa saja angkutan tidak selalu ada setiap saat,” sebut dia. # Aris Arianto