JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar 168 SD di Karanganyar Dilanda Krisis Jumlah Siswa

168 SD di Karanganyar Dilanda Krisis Jumlah Siswa

56
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
Ilustrasi

KARANGANYAR—Sebanyak 168 Sekolah Dasar (SD) di wilayah Karanganyar dilaporkan mengalami kekurangan siswa baru pada tahun ajaran 2017/2018.

Dari jumlah itu, bahkan sebagian ada yang hanya terisi kurang dari separuh kuota yang disediakan sekolah.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Agus Haryanto,  dari total 498 SD negeri dan swasta, ada 168 yang tercatat mengalami kekurangan siswa.

Dari jumlah itu, 37 sekolah memiliki murid di bawah 60 orang. Sisanya memiliki murid lebih dari 60 orang, tetapi kurang dari 120 orang.

Agus mengatakan, mayoritas SD yang kekurangan siswa itu berada di wilayah pinggiran.  Penyebabnya adalah pekerjaan orangtua merantau dan mengajak anak usia sekolah. Sejumlah orangtua juga beranggapan menyekolahkan anak ke kota lebih memiliki gengsi ketimbang sekolah di daerah.

“Jangan sampai berdampak. Kudu hati-hati memutuskan. Apakah lokasi sekolah dekat dengan sekolah lain, tenaga pengajar, kekurangan murid itu temporer atau sudah lama, dan lain-lain. Sekolah yang kekurangan siswa sejak lama menjadi prioritas penanganan,” ungkapnya, Selasa (18/7/2017).

Menurutnya, meski jumlah siswa di bawah standar nasional,  hal itu tak serta merta menjadi alasan dilakukan penggabungan sekolah (regrouping).

Butuh pemetaan dan kajian mendalam untuk melakukan penggabungan sekolah. Pasalnya ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan seperti lokasi sekolah, akses warga, guru, dan tenaga honorer.

“Kalau dilihat jumlahnya, yang 168 SD itu siswa barunya memang di bawah standar nasional. Tapi kita tidak akan gegabah melakukan regrouping. Perlu kajian dulu mana yang prioritas dilakukan penyelesaian,” terang Agus.

Sementara itu, Kepala SDN 02 Plesungan, Sukatno menyampaikan, sekolahnya menerima delapan siswa pada tahun ajaran 2017/2018.

Ia mengklaim jumlah penerimaan siswa baru meningkat dari tahun ke tahun. Tahun lalu, ia hanya menerima enam siswa dan sebelumnya empat siswa. Ia menerima kebijakan pemerintah apabila sekolahnya akan di-regrouping.

“Selama enam tahun terakhir, kami hanya memiliki sedikit siswa baru. Sudah pernah didatangi dinas terkait regrouping, tetapi belum ada tindak lanjut. Tetapi, kalau regrouping mungkin masyarakat agak rugi karena jauh dari sekolah,” ujarnya.

 Wardoyo

BAGIKAN