7 Pembeli Obat Aborsi Online Asal Sragen Diburu, Satu Orang Terindikasi...

7 Pembeli Obat Aborsi Online Asal Sragen Diburu, Satu Orang Terindikasi Bernama Murniati..

811
Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat menggelar pers rilis pengungkapan jaringan penjualan obat aborsi via online, Rabu (19/7/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Tim Satres Narkoba Polres Sragen mengaku bakal melacak tujuh konsumen yang sudah membeli paket obat aborsi dari praktik
jualbeli obat aborsi online di Sumberlawang yang digawangi Yenni
Eriyanto (25) warga Dukuh Kebonagung RT 02/07, Kebonagung, Tegowanu, Grobogan. Mereka berpeluang untuk dijerat pasal pidana apabila terbukti melakukan aborsi dengan obat yang dibeli tanpa izin edar
tersebut.

Penegasan itu disampaikan Kasat Narkoba, AKP Joko Satriyo Utomo,Rabu (19/7/2017). Kepada Joglosemar, ia mengungkapkan berdasarkan pengakuan tersangka, sejauh ini memang sudah ada tujuh pembeli paket obat aborsi. Ketujuh pembeli yang mayoritas perempuan muda dan sebagian
berstatus pelajar itu diketahui berasal dari Sragen dan sekitarnya termasuk Purwodadi.

Menurutnya saat ini tim tengah mengembangkan penyelidikan untuk menguak data tujuh pembeli itu. Penyelidikan diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan penggunaan obat itu untuk menggugurkan janin di luar ketentuan. Jika terbukti aborsi tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, maka pembeli pun bisa dijerat pasal pidana.

“Pasti kita akan lacak. Data sudah ada tinggal mengembangkan secara detail alamatnya dimana. Nggak sulit untuk mencari. Dan kalau benar obat itu dipakai untuk aborsi yang tidak ada alasan kuat, itu sudah melanggar hukum dan bisa diproses juga,” paparnya kemarin.

Baca Juga :  Bandari Capjikia di Sragen Barat, Muhammad Paji Digerebek Polisi

Dari barang bukti yang diamankan tim, terdapat bukti pengiriman barang via pekat JNE atas nama Murniati. Nama ini diduga kuat menjadi salah satu pembeli. Di sisi lain, kemarin, Kapolres AKBP Arif Budiman menggelar konferensi pers terkait pengungkapan kasus tersebut di
Mapolres.

Ia mengungkapkan praktik jualbeli yang digawangi Yenni itu dijalankan dengan modus menawarkan paket obat aborsi via media sosial Facebook (FB). Tersangka mematok tariff bervariasi tergantung usia janin yang akan digugurkan. Untuk janin yang terlambat satu bulan, paket obatnya dibanderol Rp 900.000, kemudian dua bulan Rp 1,3 juta dan terlambat 3
bulan Rp 1,5 juta.

“Modusnya pembeli memesan, bertemu dan bertransaksi. Barang dikirim via paket. Ini modus baru dan tergolong unik karena menjual obat tidak memenuhi standar dengan sarana media sosial,” terangnya.

Baca Juga :  Simak, Ini Daftar 6 Kadinas Baru Sragen dan Dirut PDAM Yang Dilantik

Kapolres menguraikan kasus jaringan penjualan obat aborsi illegal itu dibongkar setelah melalui dua pekan pengintaian dan surveilan oleh tim
Cyber Patrol Satres Narkoba. Untuk menuntaskan kasus itu, saat ini pihaknya masih mengintensifkan pengembangan guna menangkap jaringan pemasok obat illegal itu serta kemungkinan adanya tersangka lain yang terlibat.

Sementara terhadap tersangka Yenny, bakal dijerat dengan Pasal 196 juncto 197 UU NO 36/2009 tentang Kesehatan karena telah menjual obat-obatan tanpa izin dan tidak memenuhi standar. Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 10 miliar.

Atas terungkapnya kasus itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk lebih mewaspadai dan tidak mudah tergiur dengan informasi atau penawaran jualbeli di medsos. JIka mendapati tawaran obat atau barang yang meragukan, diminta untuk mengklarifikasi terlebih dahulu kepada pihak yang berkompeten.

“Karena tersangka ini ternyata juga tidak punya keahlian di bidang obat-obatan. Dia juga menyamar sebagai bidan di akun FB yang digunakannya untuk menawarkan obat aborsi tersebut,” tandasnya. Wardoyo

BAGIKAN