JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Begini Komitmen Nyata Kelurahan Mojosongo Lestarikan Lingkungan

Begini Komitmen Nyata Kelurahan Mojosongo Lestarikan Lingkungan

34
Joglosemar | Arief Setiyanto
KARYA DAUR ULANG–Produk daur ulang karya warga Mojosongo di Monumen 45 Banjarsari, Jumat (21/7).

Kesadaran mencintai lingkungan diterapkan Kelurahan Mojosongo melalui pengaktifan bank sampah. Hingga saat ini sudah ada empat bank sampah yang aktif melakukan kegiatan daur ulang.

Suasana perayaan Hari Bumi di Monumen Banjarsari meriah. Aneka produk kerajinan daur ulang dipamerkan. Di antara deretan stan Pujiati (50) warga RW 37 Mojosongo yang tertata karya daur ulang kelompoknya.

Beberapa kuntum bunga dari bahan plastik mereka tata di atas meja pameran. Aneka bros hasil daur ulang bungkus makanan ringan juga menarik perhatian pengunjung.

Tak sedikit warga yang rela merogoh kantong demi mendapat aksesoris unik itu. Tak hanya itu ia juga memamerkan tampak meja dari bahan baku plastik yang dianyam dengan rapi.

“Kami dari bank sampah karunia RW 37 Mojosongo. Produk kami masih terbatas. Mendaur sampah jadi jadi tikar, sajadah, bunga bros tempa duduk anak,” tutur Pujiati memperkenalkan produk daur ulang karya kelompoknya, Jumat (21/7/2017).

Ia mengungkapkan karena kesibukan hanya 17 warga yang terlibat dalam kerajinan daur ulang. Dari jumlah tersebut hanya beberapa yang aktif mendaur sampah.

Mendaur aneka produk butuh kesabaran dan ketelatenan. Namun baginya yang terpenting bukan profit. Oleh sebab itu produk-produk hanya dijual saat pameran. Namun demikian ia tak menolak jika ada pesanan.

“Biasanya hanya dijual saat pameran seperti ini. Untuk bunga satu tangkainya Rp 1.000, kalau bros satunya Rp 3.000, kalau tamplak meja Rp 50.000,” terangnya

Ia berharap bank sampah Karunia di RW 37 Mojosongo semakin maju. Selain itu ia berharap dinas terkait memberikan bantuan dalam berbagai macam bentuk pelatihan dan alat. “Biar kreasi produk daur ulangnya bisa semakin bervariasi dan diminati banyak orang,” pungkasnya

Suradi Ketua RW 37 Mojosongo menambahkan, setidaknya di RW 37 Kelurahan Mojosongo terdapat dua kelompok bank sampah yang juga bergerak di bidang daur ulang, yakni kelompok Karunia dan Amanah.

Pembentukan bank sampah mulanya dilatarbelakangi produksi sampah yang tinggi di RW tersebut. Sebelum dikelola sampah hanya dibakar, dan diambil oleh pemulung. Namun tahun 2016 menjadi titik balik. Sampah nonorganik yang tak dapat didaur dijual kepada pengepul.

“Paling tidak satu bulan sampah nonorganik yang dijual sampai dua truk. Kalau yang organik kami buat kompos karena kami juga menerapkan program kampung organik,” ujarnya

Sementara itu, Lurah Mojosongo Agus Triyono mengatakan di Mojosongo setidaknya ada empat bank sampah yakni dua di RW 37 dan dua lainnya di RW 16.  “Dalam waktu dekat kami dorong agar ada yang naik predikatnya menjadi kampung iklim,’ kata dia.

Di sisi lain pihaknya berkomitmen pada pelestarian lingkungan. Terutama pada persoalan buang sampah sembarang. Tiap ada kesempatan ia berkeliling dari kampung ke kampung.

“Dulu banyak sekali yang buang sampah sembarangan, sekarang relatif menurun. Karena saya minta RW, RT mensosialisasikan pada warga. Saya juga keliling kalau ada yang buang sampah saya foto dan saya kirim fotonya ke (ketua) RT dan RW agar ditegur dan dibina,” ujarnya.

Hal ini dilakukan sebab disadarinya hidup jorok dan buang sampah sembarangan menjadi faktor yang membahayakan kesehatan masyarakat Tahun 2015 lalu hampir 40 warga Mojosongo terkena serangan demam berdarah, bahkan ada kasus meninggal dunia akibat DBD.

Arief Setiyanto

BAGIKAN