JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Beragam Tarian Meriahkan Hari Lahir Mangkunegoro IX

Beragam Tarian Meriahkan Hari Lahir Mangkunegoro IX

46
Dok.Panitia Setuponan
TARIAN—Salah satu tarian asal Bali turut memeriahkan Pergelaran Tradisional Setuponan, Sabtu (22/7/2017) malam.

Pergelaran tradisional Setuponan memperingati Hari Kelahiran KGPAA Mangkunegoro IX, Sabtu (22/7/2017) malam di Pendapa Prangwedanan Pura Mangkunegaran berlangsung meriah. Bahkan mampu menarik perhatian pengunjung baik warga lokal ataupun warga asing yang datang menyaksikan.

Dalam gelaran Setuponan kali ini dengan menampilkan pertunjukan seni tari khas Pura Mangkungeran yang ditarikan perpaduan mahasiswa Akademi Seni Mangkunegaran(Asga) dengan penari Pura Mangkunegaran. Ada sejumlah tari yang ditampilkan oleh para penari baik itu tari tradisi ataupun modern dari Kinaryo Soeryo Soemirat. Ada juga tamu dari Bali dengan komunitas Seni Ginep yang menampilkan tari tradisi, yakni Tari Trunajaya dan Tari Legong Keraton.

“Gelaran ini untuk memperingati hari kelahiran KGPAA Mangkunegaran IX. Yang disajikan kali ini pertunjukan tari, sebenarnya ada empat, yakni pedalangan, teater dan protokoler adat-adat jawa,” terang Pembantu Direktur Akademi Seni Mangkunegaran (Asga) Surakarta, Budi Utomo di sela-sela gelaran, Sabtu (22/7/2017) malam.

Ia mengatakan gelaran ini sebagai upaya melestarikan tradisi yang ada di Pura Mangkunegaran. Ini juga sebagai ajang publikasi tradisi yang ada, sehingga masyarakat bisa menyaksikan langsung seni dan budaya di Mangkunegaran dan bisa mempelajari. Karena belum banyak masyarakat yang tahu, apalagi sudah ada Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) yang merupakan satu-satunya akademi seni dibawah panji-panji Keraton Mataram. “Ini untuk melestarikan seni dan budaya yang ada di Mangkunegaran. Jadi masyarakat bisa tahu dan mempelajarinya,” katanya.

Lanjut dia, pengembangan budaya di Mangkunegaran akan terus dilakukan. Karena Mangkunegaran punya tradisi yang cukup banyak, baik dari seni ataupun ilmu lewat buku-buku di perpustakaan. “Jadi harus dilestarikan dan dikembangkan dengan mengadakan pertunjukan agar tidak punah. Tradisi khusus tari Mangkunegaran itu mempunyai pakem atau ciri khas,“ imbuhnya.

Sementara itu salah satu penari dar Komunitas Seni Ginem Bali, I Made Adrian mengatakan sangat senang bisa tampil di Pura Mangkunegaran. Dalam kesempatan ini dengan menampilkan Tari Legong Keraton dan Tari Trunajaya. Keduanya merupakan tarian klasik asli Bali. “Pastinya senang dan bangga bisa tampil. Ada lima orang penari yang dari Bali,” sambungnya. Ditambahkan, tarian Mangkunegaran dengan Bali tidak banyak perbedaan. “(Tetapi) memang pakemnya itu berbeda,” pungkasnya.

#Ari Welianto

 

BAGIKAN