JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Cerita Pedagang Korban Penataan Pasar Masaran Sragen

Cerita Pedagang Korban Penataan Pasar Masaran Sragen

192
BAGIKAN
‘Joglosemar | Wardoyo
OMZET ANJLOK—Salah satu pedagang yang dipindah ke los tengah, Tinem menangis saat menceritakan merosotnya omzet hingga sepinya jualan saat aksi damai, Senin (24/7/2017)

Raut wajah perempuan tua itu tampak bersedih. Perlahan air matanya menitik mengalir melewati pipinya yang mulai mengeriput. Sesekali tangannya menyeka air mata dengan jilbab yang dikenakannya. Seolah ada beban berat yang dirasakannya saat ikut aksi damai pedagang Pasar Masaran di halaman Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Senin (24/7/2017).

“Saya tak rewangi jualan apa-apa yang ada Mas, biar bisa nyukupi kebutuhan. Adanya sayuran ya jual sayuran, wis pokoke apa yang bisa dijual saya jual. Tapi sekarang sudah nggak bisa dikojahke (diceritakan) lagi,” ujar perempuan bernama Tinem (55) itu.

Pedagang serabutan yang tinggal di Masaran itu pun menuturkan, kesedihan yang dirasakannya saat ini tak lepas dari dampak penataan los di pasar baru. Sejak digeser ke los bagian tengah, omzet dan jualannya berubah drastis.

Tinem menuturkan, kala dirinya berjualan di depan hasilnya sudah bisa mencukupi kebutuhan, bahkan bisa diandalkan untuk membayar angsuran kredit bulanan. Hal itu tak lepas dari omzet penjualan yang laris karena lokasi jualannya yang memang langsung bisa terlihat pembeli.

Namun kondisi itu berbanding terbalik sejak dirinya ikut digeser ke los bagian tengah bersama sekitar 30-an pedagang lainnya. Tak hanya omzet yang anjlok, deritanya makin bertambah lantaran suaminya yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga dengan jadi buruh gendong, sudah hampir lima bulan pensiun dari kerja setelah menderita sakit saraf.

“Dulu jualan sampai sehari masih ada pembeli. Sekarang di tengah, jam 7 pagi saja sudah nggak ada orang masuk. Jangankan bayar setoran, bisa untuk makan saja sudah bagus. Apalagi suami saya sudah nggak bisa kerja. Saya jadi tulang punggung keluarga, tapi malah nasibe jadi begini. Rasane keloro-loro Mas,” tuturnya sembari terisak-isak.