JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Curahan Hati Kecewanya Warga dan Tokoh Masaran Usai Tahu Jembatannya Batal Dibangun

Curahan Hati Kecewanya Warga dan Tokoh Masaran Usai Tahu Jembatannya Batal Dibangun

1864
BAGIKAN
Kondisi Jembatan Mbejingan di Pilang Masaran yang ambrol dan patah terpaksa harus menerima nasib batal dibangun tahun ini. Foto diambil Kamis (20/7/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Kisruh pelelangan proyek di Sragen, berdampak tragis terhadap nasib dua jembatan ambrol yang akhirnya harus batal dibangun di 2017 ini. Satu diantaranya adalah Jembatan Mbejingan di Desa Pilang, Kecamatan Masaran yang saat ini kondisinya makin mengkhawatirkan.

Meski hari sudah siang, lalu lalang pengendara roda dua masih terlihat ramai melintasi Jembatan yang menghubungkan Masaran dengan Desa Pilang, Kliwonan dan Kecamatan Plupuh itu. Namun setiap pengendara harus rela antri dan melalui rintangan gundukan tanah yang dipasang di dua pintu masuk jembatan. Mereka juga terlihat melambat saat melintasi jembatan yang ambrol diterjang banjir bandang setahun silam itu.

“Jane mereka itu juga cemas dan was-was. Kemarin sempat ditutup pakai cakruk dan bambu oleh Polsek, karena di tengah itu sudah ambrol, takutnya kalau pas dilewati dan nanti ambrol malah makan korban. Tapi tiga kali ditutup, tiga kali pula dibongkar paksa warga. Daripada rame, ya kami pasrah. Karena kalau nggak lewat sini, mereka juga harus muter jauh,” ujar Kades Pilang, Sukisno menceritakan kondisi Jembatan
Mbejingan Kamis (20/7/2017).

Ia menuturkan keberadaan jembatan itu memang sangat vital lantaran menjadi akses transportasi utama yang menghubungkan Masaran dengan Desa Pilang, Kliwonan dan Plupuh. Bahkan sejak jembatan ambrol dan patah setahun lalu, hingga kini, jalur masih tertutup untuk kendaraan roda empat.

Ambrolnya jembatan itu juga sangat memukul ekonomi Desa Pilang yang selama ini menjadi pusat pengusaha batik. Banyak pengrajin yang mengeluhkan akses transportasi dan usaha menjadi terhambat gara-gara jembatan tak bisa dilewati. Karenanya Sukisno mengaku tak bisa membayangkan reaksi warga jika pembangunan jembatan yang sudah
dianggarkan RP 2 miliar itu ternyata batal.

“ Mosok batal? Kalau benar, sebagai orang yang disepuhkan di Pilang, saya prihatin. Mesti nanti sing bengak-bengok warga, sasarannya pasti ke desa. Padahal warga sudah terlanjur dengar kalau jembatan akan dibangun bulan lima dan tiap hari sudah bertanya-tanya kok belum
ada dibangun,” terangnya.

Kekecewaan juga dilontarkan Jumadi (56), warga Dukuh Jembangan RT 13, Desa Jati yang tinggal persis di samping timur jembatan.

“Kecewa sekali, kemarin sudah senang-senang katanya mau dibangun bulan 5, malah sekarang batal. Ini sangat menggangu transportasi, banyak yang kecelik dan mbalik karena jembatan nggak bisa dilalui mobil. Muter harus dua kilometer. Apalagi saya yang tinggal di tepi ini, pondasi samping juga sudah ambrol gara-gara jembatan rusak itu,” tukasnya.

Anggota DPRD Sragen dari Masaran, Purwanto juga menyayangkan batalnya
pembangunan Jembatan Mbejingan. Padahal selain sudah dianggarkan dan disosialisasikan ke warga, jembatan itu selama ini juga menjadi urat nadi penopang ekonomi dan warga terutama akses ke sekolah anak-anak.

“Kasihan warga, karena itu jalur utama untuk ekonomi. Kami juga heran, anggaran sudah disiapkan, tinggak ngecakne saja kok nggak bisa. Ini ada apa?. Saya sendiri kadang kalau pas jemput anak, juga banyak ditanya masyarakat kapan dibangun. Giliran sudah disampaikan, malah nggak jadi,” tandasnya. Wardoyo