JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Di Wonogiri, Kulit Ikan Pun Bisa Disulap Jadi Tas Cantik

    Di Wonogiri, Kulit Ikan Pun Bisa Disulap Jadi Tas Cantik

    106
    BAGIKAN
    Joglosemar | Aris Arianto
    BERNILAI TINGGI— Dompet berbahan kulit ikan nila hasil kreativitas Marino menjadi penambah daftar potensi yang ada di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Foto diambil belum lama ini

    Pengantar
    Siapa sangka kulit ikan nila yang dianggap lunak dan mudah hancur, ternyata bisa disulap menjadi dompet aneka ukuran. Ya, benar-benar dompet yang bisa difungsikan sebagai wadah uang dan surat berharga.

    ———————

    Aris Arianto


    Aneka dompet kulit terlihat tertata rapi di sebuah etalase toko suvenir di kompleks Waduk Gajah Mungkur. Sejumlah pengunjung tampak begitu terpesona lantaran produk itu berbeda dengan lazimnya dompet yang dijual di pasaran.

    “Unik ini, dompet kulit ikan nila, bukan kulit sapi,” ujar seorang pengunjung, Sinta.

    Setelah tawar menawar sejenak, dompet segera berpindah tangan. Si penjual kemudian dengan semangat kembali melayani calon pembeli lainnya.

    Dompet kulit ikan nila merupakan salah satu produk unggulan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Sadar akan potensi alam sekitar yang melimpah, membuat seorang Marino (31), warga Dusun Bendorejo, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri tergerak hatinya. Sekian lama berkecimpung di usaha perikanan, Marino kerap melihat banyak kulit ikan nila yang tidak terpakai.

    Kebetulan Desa Sendang bersinggungan langsung dengan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Waduk yang konon pernah menjadi waduk terbesar se-Asia Tenggara itu, merupakan habitat sejumlah ikan, terutama nila, patin, maupun betutu.

    Ikan hasil tangkapan nelayan WGM sebagian besar masih dimanfaatkan secara konvensional. Yakni dijadikan ikan bakar, ikan goreng, maupun dijadikan bothok. Baru sebagian kecil warga yang mulai memanfaatkannya menjadi olahan bernilai jual tinggi, misalnya abon nila, atau keripik kulit ikan.

    “Sebenarnya masih banyak potensi dari ikan yang belum digarap. Selama ini belum terpikirkan oleh warga lain,” ungkap Marino mengawali perbincangan dengan Joglosemar, Kamis (6/7).

    Potensi tersebut adalah kulit nila. Kulit nila bisa diubah menjadi barang non kuliner, selain keripik kulit ikan. Marino mengatakan, kulit tersebut bisa dijadikan dompet kulit.

    “Jadi kulitnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat dompet kulit, sedangkan dagingnya bisa diolah menjadi aneka makanan,” kata pria berperawakan sedang itu.

    Awalnya, Marino yang sebelumnya memproduksi keripik kulit ikan nila itu, melihat banyak lembaran yang cukup besar dari kulit ikan. Dia mulai berpikir, sangat sayang, jika “hanya” dibuat keripik. Ide pun bergulir untuk menjadikannya dompet.

    Tidak berhenti hanya pada ide, Marino kemudian menghubungi koleganya yang berada di Yogyakarta. Koleganya itu memiliki usaha pembuatan aneka kerajinan. Gayung pun bersambut, ide Marino sejalan dengan koleganya, akhirnya disepakati untuk mencoba membuat dompet berbahan kulit ikan nila.

    “Keripik kulit ikan tetap dibuat dan jalan terus, tapi dompet kulit juga harus berkembang,” tutur Marino yang memiliki gerai di pintu masuk kawasan Karamba Jala Apung (KJA) WGM itu.

    Di tangan kreatif Marino, kulit yang semula dianggap lunak itu bisa berubah kuat dan lentur. Sehingga sangat mudah saat dijahit dijadikan dompet.

    “Memang prosesnya memakan waktu yang tidak singkat. Tapi yang jelas kualitasnya sudah terbukti bagus,” ujar dia sedikit berpromosi.

    Dompet kulit nila kini bisa dibeli di gerai Marino. Ukurannya beragam, mulai yang kecil seharga Rp 100.000 hingga besar Rp 200.000. Sebagai variasi, Marino membuat pula dompet wadah STNK yang sekaligus gantungan kunci kendaraan bermotor.

    Lalu, kenapa pembuatan dompet harus di Yogyakarta? Kenapa tidak di Wonogiri?. Marino mengaku belum menemukan perajin dompet yang cocok di Kota Sukses. Seandainya ada, dia menyebut bisa diajak bekerjasama.

    “Selain itu tentu bisa menyerap tenaga kerja kalau dikerjakan warga Wonogiri. Kami juga terbuka bagi pihak-pihak yang ingin mengajak kerjasama maupun ingin belajar,” jelas dia.

    Disinggung soal omzet, Marino masih sedikit merahasiakan. Sebab, usaha tersebut masih cukup baru. Namun, dikatakannya, sudah cukup banyak warga yang meminatinya.

    Kepala Desa Sendang, Budi Hardono menerangkan banyak warganya yang mendapatkan tambahan penghasilan dengan memanfaatkan potensi ikan di WGM. Salah satunya yang dijalani Marino. Warga lain ada yang membuat pakan ternak dari bangkai ikan.

    “Mungkin masih banyak yang menyangka, kalau potensi WGM hanya bisa dimanfaatkan untuk usaha kuliner. Padahal masih banyak hal lain yang ada di desa kami,” terang Budi.

    Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Dislapernak) Wonogiri Rully Pramono Retno mengatakan, pihaknya mendukung penuh upaya pemanfaatan ikan di WGM. Hal itu dibuktikan dengan secara kontinyu mengadakan pelatihan pengolahan ikan bagi warga sekitar. “Banyak warga sekitar yang menjadi binaan kami,” kata Rully. ***