Dua Ibu Kembali Meninggal, DPRD Sragen Soroti Program Tekan Angka Kematikan Ibu...

Dua Ibu Kembali Meninggal, DPRD Sragen Soroti Program Tekan Angka Kematikan Ibu Melahirkan

478
Ilustrasi

SRAGEN—Target Pemkab Sragen untuk menekan angka kematian ibu melahirkan (AKI) di bawah 10 tahun 2017 terancam gagal. Pasalnya, hingga akhir semester pertama Juni ini total kematian ibu melahirkan sudah menyentuh angka delapan orang.

Tambahan dua kasus terakhir di bulan Juni menambah buruk catatan angka kematian ibu melahirkan di Bumi Sukowati.

Dua ibu yang gagal terselamatkan saat persalinan itu diketahui berasal dari wilayah Kecamatan Kedawung dan Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo.

“Data yang kami terima, sudah ada tambahan dua ibu melahirkan yang kembali meninggal. Jadi total ada delapan kasus sampai setengah tahun ini. Sebuah kinerja yang patut dipertanyakan karena target pemerintah katanya menekan di bawah 10. Lha baru setengah jalan saja sudah delapan kasus,” kata anggota DPRD Fraksi PKB Faturrahman, Kamis (6/7/2017).

Baca Juga :  Jogoboyo Tangen Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Senada, Wakil Ketua DPRD Bambang Widjo Purwanto juga mempertanyakan keseriusan Pemkab dalam menjalankan program pendampingan ibu hamil hingga melahirkan yang selama ini didengungkan.

Tambahan dua kasus yang kian mendekatkan angka 10 di tengah tahun 2017 itu, menurutnya, juga menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memberikan pendampingan dan jaminan keselamatan bagi ibu hamil hingga persalinan.

“Ini juga tidak lepas dari mutasi yang membabi buta dan asal pindah yang selama ini dilakukan. Ketika banyak tenaga medis yang tiba-tiba dipindah ke bidang di luar kompetensinya, kemudian diisi oleh orang yang bukan ahlinya, ya begini jadinya,” tukasnya.

Baca Juga :  DPRD Sragen Soroti Proyek Rp 3,3 Miliar PDAM Tanpa Papan

Terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen Hargiyanto melalui Kabid Promosi Kesehatan, Fani Fandani membenarkan adanya dua tambahan kasus kematian ibu melahirkan di Kedawung dan Sidoharjo itu.

Namun ia menegaskan, dua kasus terakhir itu terjadi bukan akibat keterlambatan penanganan. Akan tetapi lebih karena kondisinya yang memang tidak bisa terselamatkan akibat penyakit penyerta dan beberapa hal.

“Yang satu ada massa di paru-paru kanan yang cenderung keganasan, yang satunya karena pre eklamsia berat, sehingga meski sudah rutin dikontrolkan ke rumah sakit, akhirnya tetap tak bisa terselamatkan. Bidan desa dan puskesmas juga sudah maksimal memantau dan memberikan pelayanan kepada mereka,” jelasnya.

Wardoyo

Advertisements
BAGIKAN