Gara-gara Proyek Gentanbanaran-Karanganyar, 2 Desa Terancam Terendam Banjir

Gara-gara Proyek Gentanbanaran-Karanganyar, 2 Desa Terancam Terendam Banjir

350
Joglosemar | Wardoyo MEMICU PROTES—Kondisi proyek jalan Gentanbanaran- Karanganyar, Plupuh yang memicu protes warga karena desain dan gorong-gorongnya dinilai justru berpotensi memperparah banjir yang setiap tahun melanda dua desa tersebut.
Joglosemar | Wardoyo
MEMICU PROTES—Kondisi proyek jalan Gentanbanaran- Karanganyar, Plupuh yang memicu protes warga karena desain dan gorong-gorongnya dinilai justru berpotensi memperparah banjir yang setiap tahun melanda dua desa tersebut.


SRAGEN—
Warga dua desa yakni Gentanbanaran dan Karanganyar, Kecamatan Plupuh resah dengan pembangunan jalan Gentanbanaran-Karanganyar yang saat ini berjalan. Selain progresnya sangat lamban, pemasangan gorong-gorong yang ukurannya diubah menjadi kecil dinilai kian mengancam nasib dua desa apabila terjadi luapan Bengawan Solo.

Keresahan warga itu terungkap dari salah satu wakil rakyat asal Karanganyar, Sutimin saat menyampaikan aspirasi dari warga, Rabu (26/7/2017). Ia mengatakan, hampir setiap hari ada warga yang memberi masukan soal pelaksanaan proyek jalan beranggaran Rp 3,6 miliar yang sempat menjadi sorotan karena mandek di awal pengerjaan itu.

“Progresnya sangat lambat sekali. Yang dicor paling baru 25 persen. Padahal itu jalan utama untuk akses warga antardesa dan kecamatan. Bahkan besi wiremesh yang dulu sempat dipasang saat peresmian, ini malah sudah dibongkar,” ungkap Sutimin.

Baca Juga :  Warga Padati Pesta Hajatan Ndeso, Karnaval 40 Tumpeng HUT RI di Desa Krebet, Masaran

Kegeraman warga kian bertambah setelah mengetahui ukuran gorong-gorong yang mendadak diganti. Menurutnya, gorong-gorong yang semula besar, diketahui diganti dengan ukuran sekitar diameter 80 sentimeter.

Padahal untuk wilayah Gentanbanaran dan Karanganyar yang ada di bantaran Bengawan Solo dan sering banjir, mestinya gorong-gorongnya berdiameter sekitar 1,5 meter. Kondisi badan saluran yang lebih tinggi dari gorong-gorong dan badan jalan yang semakin tinggi, juga menimbulkan kekhawatiran luapan banjir justru semakin lama merendam permukiman.

“Ini masih kemarau belum terasa. Tapi kalau nanti hujan dan air Bengawan meluap, pasti 80 persen luapan akan tertahan dan dampaknya dua desa itu bisa terkepung banjir karena air nggak bisa mengalir. Karena itu sama saja bendung luapan air,” terangnya.

Baca Juga :  Ratusan Warga Rame-Rame Serbu dan Robohkan Pagar Pabrik Tiga Pilar di Sragen. Ini Pemicunya..

Menurutnya, persoalan itu sebenarnya sudah dilaporkan ke pengawas DPU, akan tetapi hingga kini belum ada respons. Ia juga menyesalkan tidak adanya koordinasi dinas atau rekanan dengan pihak desa, warga, atau tokoh setempat terkait desain gorong-gorong, padahal itu sangat penting lantaran menyangkut nasib desa yang hampir tiap tahun jadi langganan banjir. Jika tak segera ada tindakan, warga mengancam akan mengadakan aksi.

Terpisah, Kabid Bina Marga DPU Sragen, Subagiyono mengaku, belum mendapat laporan perihal gorong-gorong proyek jalan Gentanbanaran-Karanganyar yang dikeluhkan warga tersebut. Namun ia berjanji segera berkoordinasi dengan tim teknis yang mendesain gambar untuk membahas masalah itu. # Wardoyo

BAGIKAN