JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Konflik Pasar Masaran Berlarut, Satu Pedagang Meninggal, Sebagian Stress Mikir...

Konflik Pasar Masaran Berlarut, Satu Pedagang Meninggal, Sebagian Stress Mikir Setoran

2074
Salah satu pedagang Masaran saat menceritakan penderitaannya akibat anjloknya omset saat demo damai di halaman Disperindag (24/7/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Konflik kekecewaan dampak penataan los di Pasar Masaran memaksa puluhan pedagang di Pasar tersebut kembali menggelar aksi demo di halaman Dinas Perdagangan, Senin (24/7). Tidak hanya itu, gejolak pedagang yang merasa bangkrut setelah dipindah ke los baru itu juga telah merenggut korban yakni satu pedagang meninggal dan beberapa diantaranya stress akibat anjloknya omset.

Satu korban pedagang yang meninggal itu diketahui bernama Bu Citro (60), asal Masaran. Menurut keterangan pedagang, nenak yang berjualan gerabat (sembako) itu meninggal belum lama ini ditengarai akibat syok merasakan kondisi jualannya yang terus merosot semenjak dipindah ke
los baru di bagian tengah bersama sekitar 30an pedagang.

“Iya sudah banyak korban. Bu Citro meninggal belum lama ini. Mungkin
kaget krungu setorane (kredit) nggak iso bayar. Lha gimana sejak dipindah ke tengah, jualan nggak laku. Banyak juga yang stress karena dikejar-kejar setoran, sementara jualan makin sepi,” ujar Ketua Paguyuban 30 Pedagang Penuntut Keadilan, Aminudin yang memimpin aksi damai Senin (24/7/2017).

Menurutnya dampak penggeseran 30an pedagang yang semula ada di depan, ke los bagian tengah itu memang menjadi pukulan bagi mereka. Anjloknya omset pedagang membuat mereka kebingungan karena harus dikejar setoran pinjaman.

Sementara, sudah tujuh bulan aksi digelar, belum ada solusi konkret yang diambil dinas untuk menyelesaikan persoalan itu. Aksi damai dengan berdemo lewat jualan kemarin dimaksudkan sebagai bentuk sindiran sekaligus desakan kepada dinas untuk segera mengambil tindakan demi menyelamatkan 30an pedagang yang telah dirugikan dampak penataan.

“Tuntutan kami hanya dikembalikan ke tempat semula yaitu di depan. Kalau toh mau dibangunan di sebelah timur ya segera dipenuhi. Kemarin dijanjikan mau dibangunkan los paling timur mepet jalan raya, lalu belakang kios, dan dijanjikan diberi 11 los, tapi nggak ada yang jadi.
Sementara kami juga punya utang bank dan setorane jalan terus. Ini urusan perut, jangan cuma diulur-ulur terus,” tegasnya.

Salah satu pedagang ayam, Waginem (60), asal Pringanom, Masaran menuturkan sejak dipindah ke los tengah, jualannya memang merosot drastis. Bahkan saking sepinya, di setengah bulan pertama dirinya malah rugi Rp 2 juta. Pasalnya omsetnya yang sebelum penataan bisa mencapai 25 ekor perhari, sekarang paling banter hanya laku 10 ekor.

“Bahkan kadang pitik telu (tiga) mawon nggak habis. Ngenes Mas. Harapannya ya minta dikembalikan lagi ke depan. Dulu janjina Pak Lurah Pasar bali semua gone dewe-dewe lha kok ternyata dipindah ke tengah. Lagian saya jualan ayam dimorke jualan pakaian,” tuturnya.

Keluhan serupa juga terlontar hampir sebagian besar pedagang yang ikut berdemo. Bahkan, sebagian mengaku sudah berbulan-bulan terpaksa berhenti jualan lantaran sudah tidak laku di lokasi yang baru. Salah satunya Sugi (65), pedagang sandal yang mengaku pilih berhenti jualan karena setiap berangkat justru malah nombok saking sepinya jualan.

“Padahal saya sudah jualan sejak pertama kali Pasar Masaran ada. Lha kok sekarang malah begini nasibnya,” terangnya.

Ketua Forum Masyarakat Sragen (Formas), Andang Basuki yang mendampingi para pedagang menyampaikan, secara prinsip tuntutan pedagang memang dikembalikan ke posisi awal di depan. Selebihnya, tuntutan pelengseran Kadinas lebih dikarenakan adanya pernyataan solusi yang ditawarkan ke pedagang namun belum sempat dirembuk, solusi itu mendadak langsung dibatalkan.

Sekretaris Disperindag, Tri Saksono yang menemui perwakilan pendemo mengatakan, tuntutan aspirasi pedagang sudah dicatat dan secepatnya akan disampaikan ke Kadinas yang saat ini kebetulan sedang tugas mengikuti Diklat Pimpinan.

“Sebenarnya pedagang ingin ketemu langsung dengan Kadinas. Tapi karena beliau masih Diklatpim, tuntutan tersebut akan kami sampaikan,” tegasnya.

Tri berjanji akan melakukan mediasi terkait tuntutan tersebut. Terutama negosiasi dengan pedagang lain yang saat ini sudah menempati los di bagian depan.

“Tentunya solusi harus dicari tanpa menimbulkan masalah baru. Kami masih mengupayakan solusi terbaik yang bisa
diterima semua pihak,” tambahnya.

Konflik Pasar Masaran itu bermula ketika pasar induk di Kecamatan Masaran itu selesai direnovasi setahun silam. Pihak pengelola kemudian menata kembali 491 pedagang yang ada ke lokasi kios dan los baru. Dari jumlah itu, ada sekitar 36an pedagang yang merasa dirugikan karena
sebelumnya menempati bagian depan sekarang digeser ke tengah. Konflik pun berlanjut hingga melakukan demo berulangkali namun solusi yang dinanti tak kunjung ada. (Wardoyo)

BAGIKAN