JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kreativitas Warga Pulutan Kulon Disiplinkan Anak, Giatkan Jam Belajar dan Maksimalkan...

    Kreativitas Warga Pulutan Kulon Disiplinkan Anak, Giatkan Jam Belajar dan Maksimalkan “Peran” Kentongan

    27
    BAGIKAN
    Joglosemar I Aris Arianto
    BUDAYA ADILUHUNG- Warga Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri membunyikan kentongan secara gobyok menandai pencanangan Simantra Tong, di balai desa setempat, Kamis (13/7).

    Warga Desa Pulutan Kulon, memiliki cara unik untuk menggiatkan kedisiplinan belajar anak sekolah serta menekan kasus pencabulan.

    Desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri ini mulai kembali membudidayakan penggunaan kentongan sehari-hari.

    Tak hanya untuk menjaga keamanan wilayah setempat atau sebagai penanda adanya bencana, namun kentongan menjadi semangat untuk menyiapkan generasi muda yang lebih baik.

    Kepala Desa (Kades) Pulutan Kulon, Sulistio Wibowo berkata, sejak dua bulan belakangan ini warganya membudidayakan kembali penggunaan kentongan tradisional.

    Baik yang terbuat dari kayu maupun bambu. Tujuannya, selain melestarikan budaya adiluhung, juga mendisiplinkan jam belajar anak sekolah.

    “Setiap pukul 19.00 WIB, warga memukul kentongan secara gobyok (bersamaan) untuk menandai jam belajar dimulai, lalu pukul 21.00 WIB, kentongan kembali dipukul gobyok tanda jam belajar berakhir,” kata Kades sesaat sebelum pencanangan Sistem Informasi Tradisional Kentongan (Simantra Tong) serta gerakan 1.000 kentongan, di balai desa setempat, Kamis (13/7/2017).

    Ketika jam belajar berlangsung, warga juga mematikan televisi dan radio. Warga memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk belajar dalam suasana tenang dan nyaman.

    Penggunaan kentongan sehari-harinya, menurut Kades juga memiliki manfaat besar lainnya. Misalnya memberi informasi adanya rapat atau pertemuan, tanda bahaya kebakaran maupun gempa, jam malam, hingga menekan angka kekerasan atau pencabulan.

    Dia menjelaskan ketika ada pihak yang mencurigakan, seperti berduaan di semak-semak, berkunjung hingga larut malam, serta perilaku yang menjurus ke hal negatif, warga yang pertama kali melihat akan langsung membunyikan kentongan dengan irama tertentu.

    “Kemudian diikuti warga lainnya dengan memukul kentongan bersamaan. Cara-cara seperti ini sangat efektif menciptakan suasana kondusif pada zaman dulu. Makanya kami akan membudayakan hal itu kembali,” sebut dia.

    Dia yakin keberadaan kentongan tidak akan tergeser dengan kehadiran handphone. Pasalnya sampai saat ini, misalnya ketika terjadi gempa, maka yang pertama kali dilakukan adalah keluar rumah sambil membunyikan kentongan.

    Warga lainnya yang mendengarnya langsung tahu bahwa telah terjadi gempa. Malah jarang warga yang mencari tahu melalui web penyedia informasi bencana.

    “Kami punya 11 dusun dengan jumlah 1.863 KK, setiap KK minimal memiliki dua buah kentongan, satu di dalam rumah, lainnya ditempatkan di luar rumah,” tandas dia.

    Tokoh masyarakat setempat, Suwardi menuturkan, Desa Pulutan Kulon memiliki koleksi belasan kentongan lawas. Di antaranya ada yang dibuat tahun 1914, 1927 dan sebelum era kemerdekaan. Koleksi tersebut kini dirawat pemerintah setempat sebagai daya tarik dan memperkuat potensi kentongan di desanya.

    Kepala Satpol PP, Waluyo, kentongan merupakan kearifan lokal yang efektif menyampaikan informasi dengan cepat. Kentongan juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan antisipasi tindakan negatif, seni dan budaya, maupun sosial.

    Aris Arianto