Literasi bagi Guru Pendidikan Jasmani Pun Perlu

Literasi bagi Guru Pendidikan Jasmani Pun Perlu

137
Dimas Wihandoko , M.Pd
Guru Penjaskes di SD Negeri 01 Bolon Anggota IGI Solo Raya

Literasi memang sedang menjadi trending topic di berbagai kalangan dunia pendidikan, banyak sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan agar para pendidik makin mengenal literasi. Literasi merupakan  program pemerintah melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan sebagai upaya untuk  menumbuhkan budi pekerti siswa. Salah satunya ditempuh dengan meluncurkan sebuah gerakan yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yakni sebuah gerakan yang bertujuan menumbuhkan budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Program ini melibatkan tiga pilar utama pendidikan.

Salah satu pilar utama adalah guru, sehingga para guru diharapkan dapat menjadi pembimbing dan pendamping gerakan literasi di sekolah agar berjalan optimal. Sehingga mampu melejitkan kemampuan siswa dan dapat membentuk kebiasaan siswa gemar terhadap kegiatan berliterasi. Untuk sampai pada target siswa, maka sebenarnya guru harus mampu memberikan contoh berliterasi yang baik.

Untuk itu, sasaran antaranya adalah semua guru, tidak terkecuali guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Guru olah raga dengan latar belakang kualifikasi bidang keilmuan pendidikan jasmani, yang merupakan bagian integral yang tidak dapat terpisahkan dari mata pelajaran lain. Pendidikan jasmani dan olahraga tidak hanya menekankan pada penguasaan aspek keterampilan motorik atau keterampilan berolahraga saja, tapi lebih dari itu, melalui aktivitas fisik, permainan, atau olahraga yang dilakukan  secara teratur,  secara tidak langsung dapat mengembangkan seluruh kepribadian anak yang meliputi aspek mental, emosional, intelektual, moral, dan estetika. Tanpa penjas, proses pendidikan di sekolah akan tidak seimbang.

Melihat pernyataan di atas, sebelum mengajak siswa berliterasi, diharapkan guru pendidikan jasmani lebih dulu menumbuhkan greget dan minat dalam dirinya.  Menghapus dan menanggalkan pola kerja normatif serta monoton, menampilkan citra bahwa guru pendidikan jasmani juga mampu berliterasi.

1
2
3
BAGIKAN