JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Loket Terpadu di Terminal Tirtonadi Tak Optimal

Loket Terpadu di Terminal Tirtonadi Tak Optimal

37
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
ARUS BALIK TERMINAL— Pemudik memadati Terminal Tirtonadi, Surakarta, Jumat (30/6/2017). Puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada hari ini

SOLO – Puncak arus balik sudah mulai terlihat di Terminal Tirtonadi Solo. Sayanganya loket terpadu yang menjadi fasilitas penunjang hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan. Bahkan hanya segelintir perusahaan otobus (PO) yang secara resmi melayani penjualan tiket melalui loket terpadu.

“Sejak arus mudik sampai arus balik ini baru tiga PO yang mengirimkan tarif baru,” ujar Bangkit, Supervisor Loket Terpadu, Jumat (30/6/2017). Menurut Bangkit, sebenarnya jumlah PO yang telah bergabung dalam layanan e-tiketing ada 18 PO. Minimnya jumlah PO yang mengirimkan tarif baru membuat pihaknya tidak berani melakukan penjualan. Padahal, layanan e-ticketing yang diujicobakan sejak akhir tahun lalu itu diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi calon penumpang.

Bangkit mengungkapkan, cukup banyak calon penumpang yang mencari informasi pembelian tiket di loket terpadu. Namun, sebagian besar kecewa lantaran loket terpadu belum bisa dimanfaatkan. “Sebenarnya banyak juga yang cari informasi pembelian tiket, rata-rata 20 orang sehari. Tapi informasi yang kami terima, sistem (e-tiketing) baru siap 7 Juli atau di akhir bulan Juli,” imbuhnya

Namun demikian, penjualan tiket kereta api di Terminal Tirtonadi di loket terpadu juga kebanjiran calon penumpang. Tiket jarak jauh dapat dibeli untuk keberangkatan di hari yang sama, sedang tiket kereta jarak dekat telah habis terjual di stasiun. “Yang jarak jauh ada yang beli dari sini, ya lumayan banyak. Kalau yang jarak dekat sudah penuh semua, para penumpang sepertinya banyak yang beli di stasiun,” ujar Erika petugas penjual tiket KA di loket terpadu.

Sementara itu, Koordinator Terminal Tirtonadi Solo Eko Agus Susanto mengaku kecewa dengan sejumlah PO. Pasalnya 18 PO telah menyatakan berkomitmen untuk mendukung layanan e-tiketing. Namun, sebagian besar justru tidak segera memberikan tarif baru, akibatnya layanan e-tiketing tidak dapat dimanfaatkan. “Ini bukan kesengajaan karena banyak PO yang tidak bergabung di e-tiketing. Layanan tidak bisa diberikan karena hanya sedikit yang memasukkan daftar harga baru,” ujarnya.

Bagaimana pendapat Anda..?