JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Marak Telepun Ngaku Polisi, Ngabari Keluarga Kecelakaan dan Minta Transfer Uang

Marak Telepun Ngaku Polisi, Ngabari Keluarga Kecelakaan dan Minta Transfer Uang

542
BAGIKAN
Ilustrasi telepun penipuan

SRAGEN– Warga di wilayah Sragen diresahkan dengan bangkitnya aksi penipuan dengan modus telepon dan memberitahukan ada kerabat yang menjadi korban kecelakaan. Modus itu bikin resah lantaran pelaku yang
mengatasnamakan oknum polisi selalu meminta transferan uang untuk biaya perawatan dengan nominal jutaan hingga puluhan juta kepada korban yang ditelepunnya.

Modus tersebut salah satunya marak di wilayah Tanon dalam beberapa waktu terakhir. Seperti yang dialami Rumi ((45), warga Dukuh Ngasem RT 13, Desa Karangtalun, Tanon. Dua hari lalu ia nyaris menjadi korban pelaku penipuan bermodus telepun gelap mengatasnamakan polisi dengan nama Edi Candra.

Rumi menceritakan kejadian itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Waktu itu ia mendadak mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai anggota Polres Sragen bernama Edi Candra. Dengan nomor 081318087797, oknum itu mengabarkan bahwa anak Rumi bernama, Eka Setyawati yang masih sekolah di SMK Slamet Riyadi Gemolong, sedang kecelakaan dan dalam urusan polisi.

Pelaku memintanya mentransfer uang Rp 10 juta untuk mengurus pengobatan dan menyelesaikan perkara kecelakaan itu. DI tengah kepanikan itu, korban yang percaya kemudian meminta pamannya, Ngadimin (52) untuk menuju ke ATM mentransfer uang ke nomor rekening yang
disebutkan pelaku.

“Telepunnya sambil bentak-bentak dan ada suara tangisan di belakangnya seperti suara anak perempuan. Jenenge wong nggak pengalaman, saya kira beneran. Pakde langsung saya suruh ke bank transfer uang. Karena omongannya meyakinkan dan ada suara tangisan juga,” ujar Rumi Jumat (28/7/2017).

Beruntung, saat Ngadimin tiba di Bank BRI, ia bertemu dengan kerabatnya Jumadi. Jumadi kemudian menanyai makdus Ngadimin, dan setelah tahu akan mentransfer uang, ia langsung mencegahnya dan mengatakan bahwa itu hanya modus saja.

Jumadi langsung mengajak Ngadimin mengecek keponakannya di SMK Slamet
Riyadi. Sesampai di sekolah, ternyata Eka masih ada di sekolah dan tidak seperti yang disampaikan penelepon.

Ngadimin baru percaya bahwa telepon dari oknum tadi hanya modus. Bersamaan dengan itu, beberapa tetangganya juga mengaku pernah tertipu modus serupa. Evi, tetangganya mengaku pernah mentransfer uang Rp 300.000 karena mendapat telepun dari seseorang mengaku polisi dan mengabari anaknya kecelakaan. Kemudian Mugi, tetangganya, juga mendapatkan telepon serupa, hanya saja telepon tersebut diabaikan.

Menyikapi hal itu, Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman melalui Kapolsek Tanon AKP Agus Jumadi memastikan bahwa modus telepon dengan mengatasnamakan anggota polisi dan meminta transfer uang dengan dalih ada kerabat kecelakaan, itu hanya modus penipuan saja.

Ia menghimbau kepada warga agar berhati –hati bila menerima telpon dari orang tak di kenal. Apalagi bila ujung-ujungnya meminta transferan uang.

“Yang penting jangan panik dan tetap berfikir jernis langsung di cek juga kebenarannya secara langsung,” tandasnya. Wardoyo