JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Pasar Sumberlawang Direnovasi, 506 Pedagang Akan Dipindah

Pasar Sumberlawang Direnovasi, 506 Pedagang Akan Dipindah

88
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
ilustrasi pedagang

SRAGEN – Ratusan pedagang Pasar Sumberlawang dijadwalkan segera dipindah ke pasar darurat mulai pekan depan.

Hal itu menyusul akan dimulainya revitalisasi Pasar Sumberlawang yang dijadwalkan berlangsung selama lima bulan ke depan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sragen, Untung Sugihartono, Jumat (30/6/2017) mengatakan, jumlah pedagang yang akan direlokasi ke pasar darurat sebanyak 506 pedagang. Pihaknya berharap semua pedagang secara sadar untuk segera menyiapkan kepindahan ke pasar darurat.

“Kalau pedagang oprokan tidak ada masalah. Tapi untuk pedagang kios, mestinya sudah mulai menata diri persiapan pindah,” ujarnya.

Menurutnya, semula jadwal pengerjaan proyek Pasar Sumberlawang direncanakan selama enam bulan, dengan deadline akhir tahun ini. Tapi menilik situasi yang terjadi, telah dilakukan penyesuaian terhadap time schedule.

“Setelah kami evaluasi, dari rencana pengerjaan selama enam bulan, kami ringkas menjadi lima bulan hingga 5,5 bulan,” jelasnya.

Konsekuensi percepatan itu, pihak pelaksana proyek harus melakukan penyesuaian, agar kewajibannya rampung sesuai jadwal.

Terkait proses lelang proyek, pihaknya belum tahu sudah ada pemenangnya atau belum. Tapi hingga hari terakhir kerja sebelum masuk masa libur Lebaran 2017, belum ada pemenang lelang.

Selama ini, jelasnya, proses lelang diserahkan sepenuhnya ke Lembaga Pengadaan Barang dan Jasa (LPBJ). Tapi karena masih libur Lebaran, sejauh ini belum diketahui sudah ada pemenang atau belum.

“Yang pasti sesaat sebelum libur Lebaran proses lelang sudah berjalan. Mudah-mudahan segera rampung,” tambahnya.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Sragen, Suparno, mendukung program revitalisasi pasar tradisional yang dilakukan Pemkab.

Menurut politikus PDI Perjuangan (PDIP) tersebut pasar tradisional sebagai simpul ekonomi warga harus diperkuat, agar tidak kalah dengan pasar-pasar modern.

“Pasar tradisional adalah jantungnya ekonomi kerakyatan. Jangan sampai pasar dinilai kumuh, dan kotor, sehingga ditinggalkan konsumen,” ujarnya.

Wardoyo