Perda Pengelolaan Sampah di Solo Mandul, Lho?

Perda Pengelolaan Sampah di Solo Mandul, Lho?

7
Ilustrasi | Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO – Penegakan Perda No. 30/2010 tentang pengelolaan Sampah terkesan mandul. Sanksi tiga bulan dan denda maksimal Rp 50 juta tak pernah dilakukan. Padahal satu tahun lalu Pemkot Surakarta kembali mensosialisasikan perda tersebut dan menangkap belasan pelaku. Namun kabar penegakan perda itu seolah terkubur tanpa kabar.

Padahal fenomena buang sampah sembarangan masih terus terjadi. Lurah Mojosongo Agus Triyono mengaku sering mendapati warganya yang membuang sampah sembarangan. Sungai, pekarangan rumah orang lain hingga tepi jalan kerap menjadi sasaran tangan-tangan tak bertanggungjawab.

Baca Juga :  Puan Ingatkan Pentingnya Revolusi Mental

“Masih sering saya melihat yang buang sampah sembarangan. dulu banyak, tapi sekarang cenderung menurun jumlahnya, tapi masih tetap ada,” ungkapnya.

Menurutnya, hal ni bukan persoalan sepele. Aktivitas buang sampah sembarangan sangat kontradiktif dengan pencanangan Program Hidup Bersih dan Sehat. Padahal aktivitas buang sampah sembarangan menjadi faktor munculnya berbagai penyakit mematikan. Bahkan, menurutnya kasus demam berdarah yang terjadi di Mojosongo dua tahun silam hingga merenggut korban nyawa tidak lepas dari hidup jorok dan buang sampah sembarangan sehingga menjadi sarang nyamuk.

Baca Juga :  Walikota Jadi Wasit, Kepala Damkar Jago Lari. Begini Meriahnya Perlombaan Sambut HUT ke-72 RI di Balaikota

Ia mengaku mempunyai cara ampuh sebagai sanksi sosial, yakni dengan mengambil gambar pelaku buang sampah sembarangan. Gambar yang diambil lantas disebarluaskan kepada RT/RW dan kader-kader kesehatan. Hal ini dilakukan agar menjadi perhatian bersama.

1
2
BAGIKAN