JOGLOSEMAR.CO Sport Pertama Digelar di Solo, Detec Open 2017 Langsung Kebanjiran Peserta

Pertama Digelar di Solo, Detec Open 2017 Langsung Kebanjiran Peserta

44
BAGIKAN
Hari pertama penyelenggaraan Detec Open 2017 di Lapangan Tenis Manahan, Senin (3/7/2017) siang. Foto : Nofik Lukman Hakim

SOLO – Tak Salah bagi Deddy Tennis Club (Detec) memindahkan lokasi kejuaraan nasional (Kejurnas) Detec Open 2017, dari DKI Jakarta ke kota Solo.

Dari target 300 peserta, pada penyelenggaraan hari pertama, Senin (3/7/2017) kemarin sudah terdata 350 peserta.

Jumlah peserta ini jauh dibanding penyelenggaraan tahun lalu yang hanya diikuti 240 peserta. Direktur Turnamen Detec Open, Anshari Nursida mengatakan peserta terbanyak datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun tak sedikit pula yang jauh-jauh terbang dari Papua dan Bali. Mereka akan bersaing untuk memperebutkan gelar di kelompok umur 8 tahun, 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun dan 18 tahun.

“Jumlah peserta ini masih bisa naik lagi. Karena untuk kelompok umur 8 dan 10 tahun masih ada yang mendaftar. Persaingan paling ketat ada di kelompok tunggal putra 10-16 tahun ,” terang Anshari Nursida dalam jumpa pers di Lapangan Tenis Manahan, Senin (3/7) siang.

Tak heran jika peserta terus membludak. Beda dengan turnamen lain, Detec Open 2017 dihelat dalam waktu cukup lama, yakni Senin-Sabtu (3-8/7/2017).

Kelonggaran ini membuat petenis junior tak dipaksa memainkan pertandingan dalam jumlah banyak dalam waktu sehari

Pemrakarsa kejuaraan sekaligus Pemilik Detec, Deddy Prasetyo mengaku senang dengan progres ini.

Bukan tidak mungkin level kejuaraan bisa meningkat menjadi internasional andai ada dukungan lebih dari pemerintah kota (Pemkot) Surakarta.

“Kalau memang ada dukungan penuh dari pemerintah kota Solo, salah satunya dengan memberi fasilitas lapangan ini, tidak menutup kemungkinan levelnya kita naikkan jadi tingkat internasional,” tutur Deddy.

Deddy menyebut kejuaraan tingkat junior sangat penting untuk memajukan petenis nasional. Bila tidak diwadahi dalam sebuah kejuaraan, para petenis muda yang punya potensi bisa beralih ke cabang olahraga lain, atau malah berhenti jadi atlet.

“Seharusnya induk tenis Indonesia (Pelti) bisa mulai memikirkan ini lagi. Kalau ada banyak kejuaraan berkualitas, para petenis muda bisa semakin berkembang. Salah satunya mungkin dengan menghidupkan lagi sirkuit nasional,” harapnya.

Nofik Lukman Hakim